Dukungan Bank meningkatkan Pertumbuhan Ekspor

Inilah.com, Jakarta – Sepertiga dari kredit perbankan adalah kredit konsumtif. Selebihnya untuk kredit investasi dan modal kerja. Lantas, di tengah gejolak minyak dunia, bagaimana peluang kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor?

Data Bank Indonesia (BI) per pekan ini menunjukkan, pertumbuhan kredit tahun ini telah melampaui target 22%. Hingga pekan ketiga Oktober, pertumbuhan kredit mencapai 23,95% atau senilai Rp 168 triliun. Pada akhir tahun diperkirakan tumbuh sampai 24%.

Besarnya kredit konsumtif perbankan itu mencuatkan pertanyaan. Ya, di tengah kontraksi ekonomi akibat lonjakan harga minyak dunia, seberapa besar kemampuan perbankan nasional meningkatkan penyaluran kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor di Indonesia. Pasalnya, kucuran kredit untuk menunjang pertumbuhan ekspor Indonesia pada gilirannya akan menggerakkan ekonomi Indonesia.

Sampai April 2007, total kredit konsumtif perbankan adalah Rp 236,4triliun. Kredit ekspor hanya Rp 34,01 trilun atau hanya sekitar 15% jika dibandingkan kredit konsumtif dan kredit ekspor perbankan.

“Hal ini terasa kurang. Peranan bank mestinya lebih luas untuk kegiatan ekspor, tidak hanya sektor konsumtif atau properti yang tampaknya masih dominan,’’ kata ekonom UGM Sri Adiningsih PhD kepada Hery Nugroho dari Inilah.com, Jumat (7/12).

Dari total kredit, menurut analis perbankan Eko B Supriyanto, sampai April 2007 tercatat jumlah kredit ekspor perbankan hanya 4,1% dari total kredit perbankan yang jumlahnya Rp 812,8 triliun. Bahkan, peran bank asing dalam pembiayaan ekspor per Mei 2007 cukup besar, yaitu 18,66%.

’’Jika perbankan menunjang pertumbuhan kredit kegiatan ekspor, hal itu bias meningkatkan ekspor. Sektor riil jalan dan perekonomian juga akan bergerak,’’ kata Eko B Supriyanto.

Tentu, itu bukan masalah mudah. Beberapa laporan menyingkapkan, pertumbuhan kredit pada 2008 akan didorong pertumbuhan kredit di sektor pertambangan, perkebunan, perdagangan, agrobisnis, dan infrastruktur. Sementara kredit konstruksi dan properti akan tertahan.

Berdasarkan data Inilah.com, performa kredit beberapa bank nasional belumlah mencerminkan penguatan kredit untuk kegiatan ekspor. Dalam kasus BNI, misalnya, hingga triwulan III 2007, portofolio kreditnya mencapai Rp 79,5 triliun atau meningkat 27% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 61,3%. Kredit tersebut tersebar di kredit korporasi (33,1%), usaha mikro, kecil, dan menengah/UMKM (42,3%), konsumsi (15,1%), internasional (6,8%), dan syariah (2%).

Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada kredit konsumtif yang mencapai 25%. Hingga triwulan III tahun ini, kredit konsumsi BNI menjadi Rp 12,03 triliun atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,65 triliun.

Selain kredit konsumtif, porsi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) BNI juga meningkat, yakni Rp 16 triliun hingga triwulan III tahun ini. Selama triwulan III, BNI hanya mampu menyalurkan kredit UMKM Rp 500 miliar karena kredit Rp 15,481 triliun telah tersalur hingga Juni 2007. Kredit ini terdiri atas kredit modal kerja 85% dan investasi 15%.

Pada bank BRI, kredit yang tersalurkan Rp 732 miliar pada kuartal I 2007. Total kredit BRI naik 19,17% atau senilai Rp 14,65 triliun menjadi Rp 91,06 triliun per 31 Maret 2007 dengan fokus UMKM. Hal itu membuat bank terbesar keempat di Indonesia ini mencatat laba bersih kuartal I 2007 senilai Rp 1,22 triliun atau naik 4,64% dari posisi Maret 2006 sebesar Rp 1,17 triliun.

Agaknya, kegiatan ekspor masih menunggu komitmen dan keberanian perbankan. Lagipula, ada masalah lain yang mesti dibenahi pemerintah untuk menggerakkan kegiatan ekspor, yakni permasalahan ekspor di Indonesia bukan hanya menyangkut pembiayaan. Lebih dari itu, masalahnya juga menyangkut sisi pajak, hukum, dan otonomi daerah di mana banyak hasil perdagangan ekspor dalam bentuk dolar AS, tapi hasilnya tidak masuk ke Indonesia. Ini terjadi karena biaya pajak di Indonesia lebih besar dari di luar seperti Singapura.

Tak heran jika banyak perusahaan ekspor Indonesia lebih memilih tercatat di Singapura karena pajak yang lebih rendah, termasuk pajak atas pembagian dividen. Semua itu, tentu, harus dibenahi. [I3]

See Also :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: