Archive for the ‘Bisnis’ Category

Ekonomi Jepang

August 21, 2008

Ekonomi pasar bebas dan industri Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Tiongkok dilihat dari segi paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan dengan perdagangan internasional, tapi produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.

Kerjasama di antara pemerintahan dan perindustrian, etika kerja yang sehat, penguasaan teknologi, penekanan terhadap pendidikan dan alokasi yang kecil untuk pertahanan (1% dari PDB) merupakan antara faktor-faktor yang memungkinkan Jepang berkembang pesat sehingga menjadi salah satu negara yang setanding dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa dari segi penguasaan ekonomi.

Ciri-ciri khas ekonomi Jepang di antaranya adalah kerja sama yang erat di antara perusahaan yang bergerak di bidang pengilangan, perbekalan, pengedaran, dan bank (kelompok kerja sama ini disebut keiretsu); negosiasi upah antara perusahaan swasta dengan serikat buruh (shunto); hubungan baik dengan birokrasi pemerintahan, dan jaminan karir sepanjang hayat (shushin koyo) untuk hampir sepertiga tenaga kerja di kota, dan jaminan kontrak kerja bagi buruh. Perusahaan kecil dan sederhana, wanita, dan pekerja asing biasanya tidak mempunyai fasilitas seperti itu. Bagaimanapun, kebanyakan ciri tersebut semakin terkikis, dan keadaan ekonomi kini sedang berhadapan dengan stagnasi.

Perindustrian merupakan sektor ekonomi yang paling utama buat Jepang yang amat bergantung pada impor bahan mentah dan minyak. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil mempunyai subsidi yang tinggi dan merupakan satu sektor yang dilindungi.

Ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490% dan pemerintahan hanya membolehkan kuota sebanyak 3% jumlah beras yang ada di pasaran beras. Selain melindungi pasaran beras, Jepang juga mengadakan usaha untuk menciptakan buah-buahan dan sayur-sayuran yang berkualitas tinggi dan enak namun mahal. Biasanya Jepang mampu menampung keperluan beras rakyatnya sendiri (kecuali beras yang dipakai untuk membuat makanan ringan dan makanan olahan), namun negara ini perlu mengimpor kira-kira 50% kebutuhan serealia dan makanan ternak.

Jepang mempunyai salah satu industri perikanan yang terbesar di dunia yang mencakup hampir 15% penangkapan ikan seluruh dunia, mendorong pada dugaan bahwa perikanan Jepang sedang mengakibatkan jumlah ikan di laut yang berkurang secara drastis, khususnya ikan tuna.

Secara keseluruhan, selama tiga dekade, pertumbuhan ekonomi sebenarnya amat mengagumkan: rata-rata 10% pada dekade 1960-an, rata-rata 5% pada 1970-an, dan rata-rata 4% pada 1980-an. Pertumbuhan ini namun mulai melesu pada dekade 1990-an, terutamanya disebabkan dampak sampingan perburuhan secara berlebihan selepas tahun 1980-an dan dasar-dasar ekonomi pengurangan inflasi yang bertujuan membebaskan diri dari kelebihan spekulasi pasaran saham dan harga penjualan tanah. Usaha-usaha pemerintah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi kurang berhasil dan terus terjepit pada tahun 2000-2001. Pada tahun 2000 GDP Jepang 3,15 trilyun USD, GDP Real growth rate 1,3%, GDP per capita 49,900 USD. Sedangkan GDP berasal dari sektor pertanian 2%, industri 35% dan Jasa 63% (1999).

Pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal pertama 2008 tumbuh 3,3 persen. Persentase ini muncul lebih cepat dari perkiraan para ekonom, yang disurvei Bloomberg, yang mematok angka 2,5 persen. Keberhasilan Jepang ini disebabkan oleh kegiatan ekspor dan juga bermunculannya pasar-pasar potensial yang baru. Ini membuat atmosfer ekonomi Jepang tertolong dalam menghadapi perlambatan ekonomi AS yang dikhawatirkan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi banyak negara.

PM Junichiro Koizumi mengesahkan atau meluluskan (tetapi adakalanya gagal) undang-undang perburuhan asing dan swastanisasi secara besar-besaran yang dipercaya dapat membantu merangsang kembali ekonomi Jepang. Sejauh ini undang-undang tersebut kelihatan menunjukkan hasil dalam berbagai aspek seperti perburuhan asing, namun sejauh ini belum dapat membantu ekonomi Jepang untuk tumbuh kembali. Perdana Menteri Koizumi berhasil meluluskan rancangan swastanisasi besar termasuk swastanisasi semua kantor pos Jepang.

Kepadatan penduduk yang tinggi dan usia mayoritas penduduk yang semakin tua mengakibatkan penurunan jumlah penduduk. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan yang harus ditanggung pemerintah. Di masa depan, industri robot diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi yang amat penting. Sejumlah 410.000 dari 720.000 buah robot yang beroperasi di seluruh dunia berada di Jepang.

Sektor pertanian
Hasil utama pertanian Negara Jepang adalah bahan pangan. Walaupun hanya 16% dari luas daratan di Jepang yang dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian didukung oleh kesuburan lahan pertaniannya karena tanahnya mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi maju. Hasil pertanian berupa padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, dan teh. Hasil peternakan berupa babi, ayam, telur, sapi dan susu. Sayur-sayuran berupa lobak, kubis, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah jeruk dan apel.

Sektor perikanan
Jepang menempati urutan ke-2 di dunia di belakang RRC dalam tonase penangkapan ikan (tahun 1989: 11,9 juta ton), turun pelan-pelan dari 11,1 juta ton pada tahun 1980. Setelah terjadi krisis energi tahun 1973, perikanan laut dalam di Jepang menurun. Pada tahun 1980-an, jumlah tangkapan ikan per tahun rata-rata 2 juta ton. Perikanan lepas pantai 50 % dari penangkapan ikan total negeri itu pada akhir 1980-an meski beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan.
Perikanan pesisir dilakukan dengan perahu kecil, jala, atau teknik campuran terhitung sekitar sepertiga produksi total industri perikanan Jepang, Sementara itu perikanan pesisir laut dengan kapal ukuran menengah terhitung sekitar lebih dari separuh produksi total. Di antara spesies ikan yang ditangkap misalnya: sarden, tuna, kepiting, udang, salmon, dan makerel.
Jepang mempertahankan armada perikanan terbesar di dunia dan terhitung sekitar 15% penangkapan global, memunculkan sejumlah pernyataan bahwa perikanan Jepang sedang menimbulkan pengurangan stok ikan seperti tuna. Jepang juga menebarkan kontroversi dengan mendukung perburuan ikan paus.

Sektor industri
Industri ekspor utama Jepang adalah otomotif, elektronik konsumen (lihat industri elektronik konsumen Jepang), komputer, semikonduktor, besi, dan baja.
Industri penting lain dalam ekonomi Jepang adalah petrokimia, farmasi, bioindustri, galangan kapal, dirgantara, tekstil, dan makanan yang diproses. Industri manufaktur Jepang banyak bergantung pada impor bahan mentah dan BBM.

Sektor pertambangan
Pertambangan adalah industri yang sedang menurun di Jepang sejak tahun 1980-an. Produksi batu bara dalam negeri anjlok dari puncaknya 55 juta ton pada 1960 ke hampir lebih dari 16 juta ton pada 1985, sedangkan impor batu bara naik hingga sekitar 91 juta ton pada 1987. Perusahaan pertambangan batu bara dalam negeri harus bersaing dengan batu bara murah hasil impor dan biaya produksi batu bara dalam negeri yang tinggi. Puncaknya adalah defisit cadangan batu bara pada tahun 1980-an. Pada tahun 1980-an, hampir sekitar 1 juta ton cadangan batu bara Jepang sebagian besar digunakan untuk batu arang. Sebagian besar batu bara yang dikonsumsi Jepang merupakan bahan bakar bagi pembangkit listrik.

Sektor jasa
Sejumlah tiga perempat dari total penghasilan ekonomi Jepang berasal dari sektor jasa. Industri utama sektor jasa di Jepang berupa bank, asuransi, real estat, transportasi, dan telekomunikasi. Mitsubishi UFJ, Mizuho, NTT, TEPCO, Nomura, Mitsubishi Estate, Tokio Marine, Japan Railway, Seven & I, ANA telah menjadi perusahaan besar dunia. Enam keiretsu utama terdiri dari grup Mitsubishi, Sumitomo, Fuyo, Mitsui, Dai-Ichi Kangyo, dan Sanwa. Sejumlah 326 perusahaan yang berada dalam daftar Forbes Global 2000 (16,3%) berada di Jepang.

Sumber utama: http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang#Sektor_pertanian

See Also :

Memulai Bisnis di Jepang

August 21, 2008

Berikut ini tulisan saya dapatkan dari indonesia-osaka.org

Salah satu kiat terpenting dalam memulai bisnis di Jepang adalah menetapkan satu sikap yang mempertimbangkan pola pikir jangka panjang para pengusaha Jepang, Tujuan utamanya adalah untuk membangun suatu kerangka kerja yang mantap sehingga akan mendukung terjadinya transaksi-transaksi bisnis yang berkelanjutan. Jadi bukan sekedar hubungan bisnis yang sifatnya sesaat atau jangka pendek, Sedang ketulusan dan komitmen akan merupakan landasan-landasan yang efektif yang perlu dimiliki oleh para pelaku bisnis manca negara.

I. Landasan Kerja

1.       Riset Pasar

Sebelum mengambil keputusan memasuki pasar Jepang, sejumlah faktor harus dipertimbangkan secara matang. Terutama adalah melakukan studi kelayakan dan strategi bisnis yang menyeluruh,  termasuk: (i) penelitian mengenai produk yang diminati masyarakat Jepang; (ii) analisa persaingan; serta (iii) pemilihan terhadap cara yang paling tepat untuk memasuki pasar Jepang.

 

 

 

Produk harus sesuai dengan selera masyarakat Jepang (mutu, desain, warna, dsb), Walaupun produk tertentu mungkin nampak kebarat-baratan, namun banyak produk lainnya tetap berkarakter Jepang. Oleh karena itu perlu dilakukan pendekatan yang fleksibel dalam pengembangan dan pemasaran suatu produk agar dapat menyesuaikan dengan ciri-ciri budaya masyarakat Jepang.

 

 

 

Dewasa ini, pasar di Jepang terlalu terpusat pada kesadaran konsumen terhadap harga dan nilai barang, Meningkatnya permintaan terhadap harga yang murah telah memperburuk sistim distribusi dalam negeri yang tidak efisien yang telah lama menyebabkan kesulitan bagi para pengusaha asing, Selain itu, demi mencari harga yang murah, konsumen semakin menempatkan nilai uangnya untuk memperoleh keseimbangan antara harga dan mutu.

Dalam hubungan ini, deregulasi telah memainkan peranan yang penting dalam mengatasi masalah ini yaitu dengan menghilangkan hambatan-hambatan terhadap persaingan. Pada tahun 1992, Undang-Undang tentang Usaha Eceran Berskala Besar telah direvisi untuk menyederhanakan proses pendirian pusat-pusat usaha eceran berskala besar di Jepang. Perubahan-perubahan ini telah membuat pasar Jepang lebih kompetitif dari sebelumnya dan perumusan suatu strategi untuk memasuki pasar Jepang harus didahului oleh analisa yang mendalam tentang pesaing-pesaing, termasuk analisa tentang (i) pangsa pasar, (ii) segmen pasar, (iii) pengembalian, marjin dan insentif lain untuk pedagang grosir atau pengecer, (iv) tingkat produksi, serta (v) kebijakan penentuan harga.

 

 

 

Pemilihan metode untuk memasuki pasar Jepang adalah suatu keputusan jangka panjang yang tidak dapat dengan mudah dirubah sehingga oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam menjatuhkan pilihan dari sejumlah alternatif yang ada. Menentukan metode yang cocok sangat tergantung pada nilai investasi yang ditanamkan dalam membentuk satu posisi pasar yang diinginkan. Di antara sejumlah pilihan adalah:

Melakukan hubungan langsung dengan pengusaha eceran Jepang. Beberapa pengusaha eceran di Jepang telah mulai menggunakan metode ini, sekaligus memungkinkan mereka untuk memperoleh produk secara lebih hemat untuk dijual kembali kepada konsumen.

Katalog dan bentuk penjualan langsung lainnya. Konsumen dapat berbelanja melalui katalog atau iklan yang terdapat dalam majalah atau melalui internet. Perusahaan yang menanamkan modal di bidang ini menawarkan pelanggan pilihan pembayaran dengan kartu kredit.

Hubungan dengan manufaktur Jepang. Melakukan hubungan dengan manufaktur Jepang akan berarti menikmati jaringan distribusi dengan investasi yang minim. Sejumlah aspek seperti cakupan distribusi calon mitra bisnis, kesesuaian harga jual, staf, kebijakan harga, pangsa pasar, dan keuntungan, harus menjadi bahan pertimbangan dalam memilih calon mitra-usaha di Jepang.

Penggunaan agen impor atau pedagang grosir. Ini merupakan saluran distribusi alternatif bagi perusahaan yang ingin memiliki hubungan langsung dan mandiri dengan pasar setempat.

Pembentukan Liaison Office (LO). LO memungkinkan perusahaan manca negara untuk secara langsung memantau kinerja mitra bisnis dan produknya di pasar Jepang dengan biaya yang minim.

Memiliki perusahaan penjualan sendiri. Walaupun memerlukan biaya dan waktu lebih banyak, mendirikan perusahaan lokal (local subsidiary) akan memberikan fleksibilitas dan kontrol pada semua tingkat operasinya. Sedang keberhasilannya akan sangat tergantung pada tingkat volume penjualan yang memadai terhadap biaya penempatan staf di Jepang.

 

 

 

Guna memperlancar upaya memasuki pasar Jepang, perusahaan manca negara dapat memanfaatkan tersedianya berbagai dukungan jasa. Perusahaan manca negara dimaksud dapat memperoleh informasi dan bantuan teknis untuk mendirikan kantor atau mengorganisasikan hal-hal penting lainnya dalam kegiatan operasional mereka.

 

 

 

Terdapat sejumlah organisasi nirlaba di Jepang yang dapat membantu melakukan riset awal serta pengumpulan data/informasi tentang kondisi pasar di Jepang. Organisasi yang dimaksud adalah:

JETRO (Japan External Trade Organization)

Badan-badan Pemerintah (bidang ekonomi dan perdagangan)

KBRI-Tokyo dan KJRI-Osaka

Asosiasi Kerjasama Internasional

Asosiasi Perdagangan Luar Negeri

Asosiasi Pameran Dagang

Organisasi Promosi Dagang tingkat Daerah

Kamar Dagang  dan Industri Jepang

Website Internet badan-badan pemerintah dan perusahaan

Sebagai tambahan informasi, jaringan dari pusat-pusat dukungan bisnis dijalankan oleh JETRO di Tokyo, Osaka, Nagoya, Yokohama, Kobe dan Fukuoka. Pusat-pusat ini menawarkan bantuan komprehensif kepada pengusaha manca negara di tahap awal kegiatan dalam kerangka mengembangkan pasar mereka di Jepang, dengan memberikan fasilitas kantor untuk sementara waktu. JETRO juga telah mendirikan Pameran Perumahan Import di delapan kota: di Sapporo, Sendai, Yokohama, Nagoya, Osaka, Kobe, Hiroshima dan Fukuoka, disamping mendirikan APusat Material Perumahan Impor@ di Tokyo dan Osaka, serta memiliki tiga showroom mobil impor di Tokyo, Osaka dan Nagoya yang dimaksudkan untuk memamerkan manufaktur kendaraan di negara lain, termasuk aksesoris dan barang-barang lainnya

 

 

 

Perusahaan konsultan dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan saran bagi mereka yang ingin memahami pasar Jepang secara lebih mendalam dan menyeluruh. Salahsatu perkembangan di bidang ini adalah munculnya perusahaan-perusahaan lobby yang memiliki jalur dengan pemerintah Jepang, yang konon dapat menembus lingkaran birokratis.
Dalam memilih perusahaan konsultan perlu memertimbangkan hal-hal berikut: pengalaman yang dimiliki perusahaan tersebut mengenai pasar Jepang, tersedianya personil yang mampu berbahasa asing, serta cakupan operasionalnya. Di samping itu, perusahaan jasa konsultan dimaksud harus memiliki keahlian di bidang riset pasar, penelitian perencanaan produk, saran investasi, akuisisi dan pencarian mitra bisnis, analisa pesaing, konsultasi strategi, penamaan produk serta bahan-bahan promosi. 

 

 

 

Pertemuan-pertemuan bisnis di Jepang biasanya menggunakan tenaga penterjemah/interpreter. Walau sebagian besar perusahaan-perusahaan besar di Jepang memiliki staf yang lancar berbahasa Inggris, namun masih tetap yang terbaik adalah dengan menggunakan jasa penterjemah untuk menjamin bahwa perbedaan bahasa tidak akan menjadi halangan komunikasi.

 

 

 

Untuk mengatasi biaya awal yang masih tinggi di Jepang, beberapa perusahaan di Jepang menawarkan jasa inkubasi kepada perusahaan manca negara, antara lain penyediaan ruangan kantor dan jasa kesekretariatan. Perusahaan manca negara lainnya dapat juga menggunakan perusahaan telemarketing yang menyediakan fasilitas survey telepon, analisa data, operator, belanja melalui telepon, penjualan katalog dan penjualan langsung lainnya.

 

 

 

Salah satu langkah awal untuk memasuki pasar Jepang adalah menjalin hubungan dengan distributor atau pembeli yang potensial. Di Jepang, melalui satu surat atau telepon terkadang tidak cukup untuk mulai terjalinnya hubungan bisnis dan ini tidak berarti mereka kurang berminat. Dalam kaitan ini, terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat keluarnya tanggapan dari mereka, yaitu:

Kurangnya kemampuan berbahasa asing. Sementara kebanyakan perusahaan-perusahaan besar memiliki sumber daya yang mampu menjalankan bisnis dalam bahasa lain di luar bahasa Jepang, rata-rata perusahaan kecil dan menengah tidak terbiasa berkomunikasi secara langsung dengan perusahaan asing dan mungkin tidak mempunyai akses ke dalam bahasa asing. Pelaku bisnis manca negara harus siap, jika diperlukan, untuk berkomunikasi atau menggunakan interpreter bahasa Jepang.

Kurang mengenal produk anda. Memiliki nama besar dalam pasar di negara lain bukan jaminan bahwa perusahaan atau produk anda akan menikmati reputasi yang sama di Jepang.

Kurangnya informasi. Memberikan komitmen untuk bernegosiasi dengan perusahaan manca negara merupakan langkah besar bagi perusahaan-perusahaan di Jepang. Oleh karena itu memberikan laporan tahunan, brosur perusahaan dan data lainnya tentang perusahaan anda akan banyak membantu.

Proses pembuatan keputusan yang rumit. Waktu yang diperlukan oleh perusahaan Jepang dalam merumuskan suatu tanggapan terhadap kontak bisnis awal dapat mengganggu kelancaran komunikasi.

Kecenderungan untuk kontak langsung. Perusahaan Jepang kurang menyukai pembahasan masalah penting melalui telepon atau korespondensi. Mereka lebih senang komunikasi langsung atau tatap muka.

 

 

 

Salahsatu penyebab frustrasi perusahaan manca negara yang mencoba berbisnis di Jepang adalah ketidak-mampuan mereka untuk memahami lamanya waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan Jepang dalam memformulasikan tanggapan atas sebuah proposal bisnis. Tergantung dari pentingnya permasalahan, rangkaian negosiasi dapat berlangsung berbulan-bulan. Untuk mencegah kemungkinan mengendurnya semangat, pelaku bisnis manca negara perlu memahami adanya ciri-ciri khusus dalam organisasi perusahaan di Jepang pada umumnya, yang bertanggungjawab atas lambannya suatu proses pengambilan keputusan.

 

 

 

Ringi adalah sejumlah langkah prosedural yang harus ditempuh dalam mencapai konsensus yang seringkali harus melalui serangkaian perundingan yang kompleks, karena banyaknya pendapat yang perlu dipertimbangkan. Pertama-tama, proposals diedarkan kepada pihak-pihak yang berminat, pada tingkat seksi, divisi dan perusahaan. Kemudian diteruskan dengan pembahasan yang menyeluruh dan terinci dari usulan ini guna mencapai konsensus dalam batas waktu yang wajar. Keputusan yang dicapai secara bersama ini akan jauh lebih mudah diimplementasikan bila dibanding dengan keputusan yang dibuat oleh seorang presiden direktur sendiri atau para pimpinan perusahaan tersebut.

 

 

 

Struktur organisasi dan sistim kepangkatan di Jepang pada umumnya berbeda dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Senioritas masih tetap menjadi dasar bagi sebagian besar hirarki perusahaan di Jepang. Sejalan dengan itu, status seseorang di dalam suatu perusahaan terkait erat dengan usianya, dengan gelar di Jepang sebagai faktor penentu jabatan dan fungsi seseorang.

 

 

 

Pada saat melakukan pendekatan kepada suatu perusahaan Jepang, terjadinya pertemuan dengan seorang pimpinan tertinggi perusahaan tersebut tidak selalu akan berarti bahwa suatu hubungan bisnis telah terjalin. Di samping pembinaan hubungan dengan pimpinan tertinggi dari sutau perusahaan, penjalinan hubungan dengan staf menengah juga tidak kalah pentingnya, mengingat peran vital mereka dalam proses pengambilan keputusan. Walau demikian, pertemuan dengan para anggota manajeman puncak pada saat yang tepat adalah sangat penting mengingat keputusan-keputusan akhir seringkali berada di tangannya.

 

 

 

Memperkenalkan diri merupakan bagian yang tidak terpisahkan di dalam lingkungan bisnis di Jepang. Oleh karena itu, terhadap pengusaha-pengusaha Jepang yang menilai tinggi hubungan pribadi dapat digunakan oleh perusahaan manca negara untuk memperlancar upaya-upaya menembus pasar Jepang. Juga suatu perkenalan melalui seseorang yang terkenal atau yang berstatus tinggi, secara pribadi maupun melalui jalur resmi, dapat bermanfaat

 

 

 

Topik pembicaraan pada saat perkenalan biasanya menyangkut penjelasan tentang perusahaan anda, jabatan anda dalam perusahaan, serta masalah bisnis yang ingin anda bicarakan.

 

 

 

Walaupun perundingan detil pada umumnya dapat ditangani oleh wakil perusahaan di Jepang. Tetapi, untuk perundingan-perundingan yang sifatnya sangat penting sebaiknya presiden atau salahsatu pimpinan perusahaan sendiri yang menjalin kontak awal dengan mitra bisnisnya di Jepang. Bahasa Jepang untuk prosedur seperti ini disebut aisatsu yang artinya salam (greetings). Aisatsu berfungi sebagai pemecah kekakuan yang memungkinkan perusahaan anda dikenal, walaupun cara ini tidak diperlukan untuk kegiatan-kegiatan seperti ekspor dalam jumlah kecil dari sebuah perusahaan dagang.

 

 

 

Menyesuaikan diri dengan praktek-praktek bisnis di Jepang serta mengupayakan menerapkan kebiasaan-kebiasaan dapat dipastikan akan memperbesar peluang anda dalam memasuki pasar Jepang. Memberikan kesan yang menyenangkan kepada calon mitra bisnis, dengan menerapkan praktek-praktek tadi, akan memperlihatkan keseriusan anda terhadap pasar Jepang. Sudah tentu akal sehat harus selalu mendasari para pengusaha manca negara dalam mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan bisnis orang Jepang dimaksud. Penilaian yang tepat sebaiknya dilakukan untuk menghindari situasi yang memalukan, yang mungkin terjadi sebagai akibat dari perbedaan etika bisnis.

1. Kartu Bisnis

Kartu bisnis memegang peran penting dalam melakukan bisnis di Jepang dan saling tukar kartu bisnis merupakan bagian tak terpisahkan dalam etika bisnis di Jepang. Orang asing agar selalu menyiapkan kartu bisnis berbahasa Jepang di satu sisi dan bahasa lain (Inggris) di sisi lainnya.

Pada saat menerima kartu bisnis, sudah merupakan kebiasaan untuk segera membalas memberikan kartu bisnis anda, karena kalau tidak dapat berarti bahwa anda tidak berminat untuk menjalin hubungan bisnis di masa dating. Kartu bisnis harus diberikan dan diterima dengan kedua tangan, dimana ketika memberikan kartu anda, nama anda harus dalam posisi terbaca oleh si penerima dan pada sisi yang dalam bahasa Jepang. Pada meja pertemuan, kartu bisnis agar diletakkan di depan anda selama pertemuan berlangsung. Langsung memasukkan kartu bisnis ke dalam kantung sebelum dimulainya pembicaraan bisnis akan memberikan kesan tidak sopan.

 

 

 

Arti Aya dan tidak dalam bahasa Jepang agak berbeda dengan arti dalam bahasa asing lainnya. Persamaan dari kata Aya dalam bahasa Jepang adalah Ahai yang tidak selalu berarti

suatu persetujuan, tapi hanya sekedar konfirmasi bahwa apa yang anda katakan sudah didengar dan dimengerti.

 

 

 

Membungkuk masih merupakan cara formal yang paling lazim berlaku untuk mengekspresikan salam, terimakasih atau permintaan maaf kepada orang lain. Namun demikian, pada saat bertemu pengusaha manca negara, orang Jepang seringkali berjabat tangan atau kombinasi antara membungkuk dan jabat tangan. Banyak pengusaha manca negara tidak tahu pasti apakah harus membungkuk atau berjabat tangan. Dalam situasi seperti ini, yang paling aman adalah menunggu sampai mitra bisnis Jepang anda memulainya dan kita tinggal mengikuti.

 

 

 

Pakaian pengusaha Jepang umumnya setelan jas warna gelap atau biru tua. Walaupun demikian, apa yang dianggap sebagai pakaian bisnis yang lazim di negara-negara industri maju biasanya juga dianggap baik di Jepang. Di perusahaan-perusahaan Jepang akan dinilai tidak pantas bila gaya berpakaian atau berhias pegawai atau staf memberi kesan Apamer kekayaan, karena dikhawatirkan dapat mengganggu keharmonisan lingkungan kerja. Merupakan pemandangan biasa di sejumlah perusahaan, semua pegawai termasuk menejemen puncaknya mengenakan seragam perusahaan demi keselarasan.

 

 

 

Setelah penjualan produk diputuskan, sarana distribusi dan konsumennya diketahui, maka perhatian kita selanjutnya perlu dipusatkan pada masalah bagaimana menjaga hubungan bisnis yang sudah terjalin. Kiranya penting diketahui oleh para pengusaha Indonesia bahwa perusahaan terkemuka di Jepangpun akan terus berupaya untuk memelihara hubungan bisnis yang sudah terjalin.

 

 

 

Walaupun format dan metode transaksi bisnis di Jepang dapat dikatakan serupa dengan negara-negara lainnya, namun kemiripan ini mungkin hanya pada permukaannya saja. Oleh karena itu, perlu kiranya diingat bahwa hubungan dengan mitra bisnis merupakan faktor yang amat penting bagi para pengusaha Jepang. Di samping itu, tingkat kedekatan dan adanya kesamaan tertentu merupakan aspek menentukan dalam hubungan bisnis di Jepang.

 

 

 

Kontrak merupakan bentuk kesepakatan standar antara pengusaha Jepang dengan mitra bisnis manca negara, dimana detil dari konsep kontrak  harus diperiksa oleh ahli hukum. Karena masyarakat Jepang pada umumnya enggan untuk berurusan dengan pengadilan, maka perlindungan atas produk sebagai suatu konsep hukum berjalan sangat lambat.

 

 

 

Seseorang harus mengenali jenis dan metode promosi penjualan di Jepang yang mencerminkan struktur dari sistem eceran dan distribusi secara nasional.

 

 

 

Jika anda mempunyai produk yang dapat dijual oleh toko-toko eceran yang cakupannya luas, seperti supermarket, department store dan toko-toko di lingkungan tempat tinggal, sebaiknya anda menggunakan perusahaan grosir.  Mengingat pentingnya keberadaan pedagang grosir di Jepang, maka anda perlu memperhatikan cara-cara perusahaan pesaing memberikan kompensasi kepada para pedagang grosirnya sewaktu melakukan promosi penjualan, karena memberikan insentif kepada para pedagang grosir adalah penting.

Dalam promosi penjualan, bentuk yang paling umum bagi para pedagang grosir adalah diberikan marjin dan potongan harga. Untuk itu, anda harus melihat marjin yang diberikan pesaing di dalam dan di luar negeri. Untuk potongan harga, jumlahnya tergantung pada jenis produk dan ini berkisar mulai dari 5%.

 

 

 

Perwakilan perusahaan mempunyai peran langsung dalam sistem distribusi di Jepang dan mempunyai fungsi utama untuk menjalin hubungan pribadi antara produsen, pengecer dan pedagang grosir.

Kegiatan utama perwakilan perusahaan adalah mengumpulkan informasi, meyakinkan pengecer dan pedagang grosir akan kepentingan produsen, serta menyediakan jasa pendukung termasuk bantuan di bidang akuntansi dan perdagangan.

Selain itu, perwakilan perusahaan bertugas memberikan kepastian kepada produsen mengenai volume penjualan pada tingkat konsumen dan ratio nilai perolehan bagi produk termaksud. Karena kedatangan produk umumnya didasarkan pada jumlah pengapalan, maka perwakilan perusahaan meminta pendapat pengecer dan grosir mengenai produknya serta menentukan tingkat penjualan produk tersebut di pasaran.

Perwakilan perusahaan juga menyediakan bantuan kepada pengecer dan grosir pada waktu meluncurkan produk baru, menyediakan toko di lingkungan tempat tinggal, memberikan saran dalam pengisian formulir pemesanan, membersihkan atau menata kembali toko serta membicarakan cara-cara untuk memperluas usahanya.

 

 

 

Hubungan yang erat dengan pedagang grosir dan konsumen adalah penting untuk memastikan efektifitas yang maksimum dalam berpromosi. Perhatian terhadap konsumen dapat dilihat dari berbagai jenis insentif yang diberikan oleh produsen.

Diantara teknik-teknik promosi yang populer, misalnya mengundang ke tempat peristirahatan atau tiket gratis untuk melihat pertunjukan teater atau hiburan-hiburan lainnya. Tanda mata atau hadiah yang diberikan pada waktu yang tepat akan merupakan ungkapan komitmen produsen kepada pedagang grosir dan ini sama pentingnya dengan pemberian potongan harga dan marjin. Orang Jepang mempunyai  dua musim pemberian hadiah, yaitu pada akhir Juni/awal Juli disebut ochugen dan pada bulan Desember disebut oseibo. Bingkisan pada umumnya berupa kue-kue kering/coklat atau jenis makanan lainnya, dan bingkisan ini biasanya dikirim oleh toko dimana bingkisan ini dibeli. 

Promosi di dalam toko (in-store) adalah cukup lazim, dimana perusahaan menjual produknya ke departemen store yang mensyaratkan perusahaan ini menugaskan bagian penjualannya untuk membatasi tingkat penjualan yang seminim mungkin. Staf penjualan diadakan untuk memamerkan produknya dan menjelaskan kepada masyarakat tentang manfaat produk tersebut. Namun beberapa departemen store lebih menekankan untuk menjual produk perusahaannya sendiri daripada menyewakan ruangannya kepada produsen dan distributor. 

Di samping diadakan di dalam toko, promosi sering diadakan di tempat-tempat pameran lainnya seperti trade fair, exhibition, dsb.

 

 

 

Sistem ketenagakerjaan di Jepang, termasuk masa kerja seumur hidup, promosi yang berdasarkan senioritas dan kenaikan upah tahunan, telah mengalami perubahan besar walaupun dalam beberapa hal masih tetap.

 

 

 

Dari sudut pandang para majikan di Jepang, saat ini dirasakan semakin sulit untuk menjamin kesejahteraan seumur hidup kepada setiap karyawan dengan sekaligus tetap kompetitif dalam pasar global. Insentif untuk PHK dan percepatan pensiun telah diterapkan oleh beberapa perusahaan besar sebagai jalan keluar untuk menekan pengeluaran biaya personil. Banyak pengamat percaya bahwa sistem masa kerja seumur hidup harus dievaluasi kembali dan jika perlu dimodifikasi atau dihapus.

Walau demikian, kebanyakan majikan pada perusahaan besar di Jepang masih mempekerjakan kaum generalist dari kampus, SMA dan sekolah kejuruan. Satu hal yang perlu dicatat mengenai pendidikan dan pelatihan karyawan di Jepang adalah melalui rotasi kerja yang memungkinkan berkembangnya kaum generalist dengan dasar keterampilan dan pengetahuan umum yang dimiliki. Pendidikan karyawan ditingkatkan dengan pelatihan khusus melalui program di perusahaannya.

 

 

 

Perusahaan-perusahaan Jepang secara tradisional tetap mempertahankan sistim kompensasi upah yang terkait dengan promosi berdasarkan senioritas. Bagaimanapun, desakan untuk menjadi lebih kompetitif beberapa bagian telah mulai menerapkan sistem kompensasi berdasarkan kinerja.

Kebanyakan perusahaan Jepang memberikan bonus dua kali setahun, yaitu bonus musim panas di bulan Juli dan bonus musim dingin di bulan Desember, besarnya berkisar antara satu bulan sampai enam bulan gaji. Ini semua merupakan bagian dari satu paket kesejahteraan karyawan. Upah pokok biasanya disesuaikan setiap tahun pada saat musim semi, tapi pada saat terjadi kesulitan keuangan, bonus bisa saja tidak diberikan. Selain upah, perusahaan diharapkan memberikan uang saku dan tunjangan sewa, seperti sewa rumah dan transportasi, kerja lembur dan upah masa liburan, disamping itu juga diberikan fasilitas rekreasi, liburan, perumahan dan asrama.

 

 

 

Perusahaan manca negara harus memahami dan melakukan praktek-praktek SDM di Jepang guna mengambil manfaat secara maksimal. Penekanannya terletak pada pengembangan program rekruitmen bagi lulusan baru dan karyawan karier tingkat menengah. Karena tingkat persaingan yang tinggi di pasar Jepang untuk me-rekruit lulusan universitas, maka hanya perusahaan manca negara dengan komitmen besar, jelas dan berjangka panjang terhadap pasar Jepang yang akan mampu bersaing dengan perusahaan Jepang di semua bidang.

Salah satu cara untuk menghadapi prestise dan pengalaman yang diberikan oleh perusahaan Jepang kepada karyawannya adalah dengan memberikan gaji yang lebih tinggi dan kesempatan serta peluang untuk maju. Hal ini mungkin lebih efektif bagi karyawan yang lebih muda, yang terkadang mereka merasa terhambat oleh sistem yang mendasarkan senioritas dari perusahaan Jepang tradisional.

 

 

 

Hari kerja pegawai kerah putih lelaki Jepang atau biasanya di Jepang disebut Sarariman (salary man) pada umumnya lebih panjang dibanding dengan sesamanya di negara-negara lain. Sebagian besar waktu mereka digunakan untuk membina hubungan kerja yang sudah ada maupun untuk menjalin hubungan baru. Membangun hubungan yang mantap dan berjangka panjang, baik di dalam maupun di luar perusahaan, merupakan salah satu unsur penting menuju keberhasilan.

Untuk mempererat hubungan pribadi antara manager dengan bawahannya, biasanya diadakan acara minum-minum setelah jam kerja. Pesta-pesta biasanya diadakan seperti pesta tahun baru atau peristiwa khusus lainnya. Piknik perusahaan ke tempat-tempat peristirahatan atau bahkan ke luar negeri merupakan cara untuk mempererat hubungan di tempat kerja.

Para pengusaha Jepang juga banyak menghabiskan waktu dan uang untuk menghibur dan dihibur oleh klien, biasanya di restoran dan tempat-tempat hiburan lainnya. Waktu melakukan kunjungan bisnis di Jepang, seseorang juga harus siap untuk pergi sampai larut malam bersosialisasi dengan rekan bisnis Jepang, tentunya tanpa kehadiran isteri anda.

XI. Wanita di Tempat Kerja

Pada tahun 1986 Parlemen Jepang mengesahkan UU tentang persamaan kesempatan kerja yang bertujuan untuk menjamin kesetaraan hak bagi laki-laki dan wanita di tempat kerja. Wanita berpendidikan tinggi di Jepang yang jumlahnya semakin meningkat pada saat ini lebih memilih untuk mengembangkan karier profesional, dan ini dapat ditemukan di lembaga-lembaga industri keuangan dan jasa lainnya.

Mengingat kian meningkatnya wanita Jepang yang memilih untuk bekerja setelah melahirkan dan guna mengurangi beban yang berkaitan dengan pengasuhan anaknya, kepada karyawan wanita diberikan cuti melahirkan selama satu tahun.

Komunitas bisnis Jepang juga telah semakin terbiasa berurusan dengan para eksekutif wanita dari luar negeri. Sampai saat ini, para pelaku bisnis di Jepang belum banyak memberikan peluang kepada wanita untuk posisi puncak. Akan tetapi dengan ekspansi industri Jepang ke luar negeri dan masuknya perusahaan-perusahaan manca negara ke Jepang, maka pengalaman seperti itu menjadi lebih umum.

XII. Kesimpulan

Walaupun Jepang telah mengalami perubahan-perubahan yang cukup mendasar di bidang sosial, politik dan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir ini, namun peluang yang ditawarkan oleh pasar Jepang telah meningkat secara substansial. Perkembangan ini menjadikan Jepang sebagai salahsatu pasar terbesar dan paling menarik di dunia untuk sejumlah produk dan jasa.

Dalam upaya membantu para pengusaha Indonesia mengambil manfaat dari peluang-peluang dalam pasar Jepang dimaksud, kami mengajak anda untuk mengenali berbagai keunikan dan perbedaan dalam kebiasaan dan praktek bisnis di Jepang dibandingkan yang berlaku di negara-negara tujuan ekspor Indonesia lainnya. Setelah mengenalinya diharapkan kita akan lebih mampu mengatasi tantangan-tantangannya. Dalam hubungan ini perlu ditekankan pentingnya kesabaran dan keuletan, penjalinan dan pembinaan hubungan yang berkelanjutan, serta upaya-upaya nyata untuk menterjemahkan komitmen dalam menembus pasar Jepang.

See Also :

X. Sosialisasi

 

3. Memahami SDM Perusahaan Jepang

 

2. Struktur Upah

 

1. Praktek Ketenagakerjaan

 

IX. Aspek Sosial Tempat Kerja

 

3. Jenis-Jenis Promosi Penjualan

 

2. Fungsi Perwakilan Perusahaan (Manufacturer)

 

1. Peran Pedagang Grosir

 

VIII. Promosi dan Teknik Penjualan

 

2. Kontrak

 

VII. Kebiasaan Praktek Bisnis di Jepang

1. Perbedaan Dalam Transaksi Bisnis

 

VI. Memelihara Hubungan Bisnis

 

4. Pakaian

 

3. Membungkuk

 

2. AYa Tidak Selalu Berarti AYa

 

V. Perbedaan Praktek Bisnis

 

2. Aisatsu

 

1. Memperkenalkan Diri

 

IV. Optimalisasi Kontak Melalui Hubungan Pribadi

 

4. Struktur Organisasi

 

3. Pangkat dan Jabatan

 

2. Pembuatan Konsensus dan Sistem Ringi

 

1. Kesabaran Bernilai Tinggi

 

III. Memulai Kontak Bisnis

 

4. Lain-Lain

 

3. Jasa Terjemahan dan Interpretasi

 

2. Jasa Konsultan

 

1. Organisasi Publik dan Nirlaba

 

II. Fasilitas Sumber Daya dan Jasa

 

4.       Metode Memasuki Pasar Jepang

 

3.       Persaingan

 

2.       Kesesuaian Produk

Dukungan Bank meningkatkan Pertumbuhan Ekspor

July 28, 2008

Inilah.com, Jakarta – Sepertiga dari kredit perbankan adalah kredit konsumtif. Selebihnya untuk kredit investasi dan modal kerja. Lantas, di tengah gejolak minyak dunia, bagaimana peluang kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor?

Data Bank Indonesia (BI) per pekan ini menunjukkan, pertumbuhan kredit tahun ini telah melampaui target 22%. Hingga pekan ketiga Oktober, pertumbuhan kredit mencapai 23,95% atau senilai Rp 168 triliun. Pada akhir tahun diperkirakan tumbuh sampai 24%.

Besarnya kredit konsumtif perbankan itu mencuatkan pertanyaan. Ya, di tengah kontraksi ekonomi akibat lonjakan harga minyak dunia, seberapa besar kemampuan perbankan nasional meningkatkan penyaluran kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor di Indonesia. Pasalnya, kucuran kredit untuk menunjang pertumbuhan ekspor Indonesia pada gilirannya akan menggerakkan ekonomi Indonesia.

Sampai April 2007, total kredit konsumtif perbankan adalah Rp 236,4triliun. Kredit ekspor hanya Rp 34,01 trilun atau hanya sekitar 15% jika dibandingkan kredit konsumtif dan kredit ekspor perbankan.

“Hal ini terasa kurang. Peranan bank mestinya lebih luas untuk kegiatan ekspor, tidak hanya sektor konsumtif atau properti yang tampaknya masih dominan,’’ kata ekonom UGM Sri Adiningsih PhD kepada Hery Nugroho dari Inilah.com, Jumat (7/12).

Dari total kredit, menurut analis perbankan Eko B Supriyanto, sampai April 2007 tercatat jumlah kredit ekspor perbankan hanya 4,1% dari total kredit perbankan yang jumlahnya Rp 812,8 triliun. Bahkan, peran bank asing dalam pembiayaan ekspor per Mei 2007 cukup besar, yaitu 18,66%.

’’Jika perbankan menunjang pertumbuhan kredit kegiatan ekspor, hal itu bias meningkatkan ekspor. Sektor riil jalan dan perekonomian juga akan bergerak,’’ kata Eko B Supriyanto.

Tentu, itu bukan masalah mudah. Beberapa laporan menyingkapkan, pertumbuhan kredit pada 2008 akan didorong pertumbuhan kredit di sektor pertambangan, perkebunan, perdagangan, agrobisnis, dan infrastruktur. Sementara kredit konstruksi dan properti akan tertahan.

Berdasarkan data Inilah.com, performa kredit beberapa bank nasional belumlah mencerminkan penguatan kredit untuk kegiatan ekspor. Dalam kasus BNI, misalnya, hingga triwulan III 2007, portofolio kreditnya mencapai Rp 79,5 triliun atau meningkat 27% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 61,3%. Kredit tersebut tersebar di kredit korporasi (33,1%), usaha mikro, kecil, dan menengah/UMKM (42,3%), konsumsi (15,1%), internasional (6,8%), dan syariah (2%).

Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada kredit konsumtif yang mencapai 25%. Hingga triwulan III tahun ini, kredit konsumsi BNI menjadi Rp 12,03 triliun atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,65 triliun.

Selain kredit konsumtif, porsi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) BNI juga meningkat, yakni Rp 16 triliun hingga triwulan III tahun ini. Selama triwulan III, BNI hanya mampu menyalurkan kredit UMKM Rp 500 miliar karena kredit Rp 15,481 triliun telah tersalur hingga Juni 2007. Kredit ini terdiri atas kredit modal kerja 85% dan investasi 15%.

Pada bank BRI, kredit yang tersalurkan Rp 732 miliar pada kuartal I 2007. Total kredit BRI naik 19,17% atau senilai Rp 14,65 triliun menjadi Rp 91,06 triliun per 31 Maret 2007 dengan fokus UMKM. Hal itu membuat bank terbesar keempat di Indonesia ini mencatat laba bersih kuartal I 2007 senilai Rp 1,22 triliun atau naik 4,64% dari posisi Maret 2006 sebesar Rp 1,17 triliun.

Agaknya, kegiatan ekspor masih menunggu komitmen dan keberanian perbankan. Lagipula, ada masalah lain yang mesti dibenahi pemerintah untuk menggerakkan kegiatan ekspor, yakni permasalahan ekspor di Indonesia bukan hanya menyangkut pembiayaan. Lebih dari itu, masalahnya juga menyangkut sisi pajak, hukum, dan otonomi daerah di mana banyak hasil perdagangan ekspor dalam bentuk dolar AS, tapi hasilnya tidak masuk ke Indonesia. Ini terjadi karena biaya pajak di Indonesia lebih besar dari di luar seperti Singapura.

Tak heran jika banyak perusahaan ekspor Indonesia lebih memilih tercatat di Singapura karena pajak yang lebih rendah, termasuk pajak atas pembagian dividen. Semua itu, tentu, harus dibenahi. [I3]

See Also :

Asuransi Kredit Ekspor

July 28, 2008

Untuk memproteksi kredit ekspor, saat ini dikembangkan asuransi kredit ekspor.

Contoh produk : Asei (www.asei.co.id/produk/ask/)

Kredit Impor

July 28, 2008

Pelaku usaha saat ini juga bisa mendapatkan pendanaan untuk impor. Salah satunya adalah layanan Bank Ekonomi.

Kredit Impor adalah Kredit modal kerja yang khusus diberikan untuk membiayai barang impor. Penarikannya hanya dapat digunakan untuk pelunasan dokumen L/C Impor diluar biaya-biaya pajak impor. Penarikan baru dapat dilakukan oleh nasabah dengan menyerahkan surat aksep sebesar nilai dokumen L/C impor dikurangi nilai setoran jaminan.

Ciri-ciri Pokok
- Waktu : Maks. 6 bulan, tidak dapat diperpanjang
- Pemakaian kredit : Non Revolving
- Tujuan penggunaan : Modal kerja untuk pembiayaan barang impor
- Resiko kredit : Langsung (Direct)
- Jenis komitmen : Committed setelah L/C Impor (Sight L/C dibuka)
- Cara penarikan : Tidak bebas, batas maks. penarikan persentase dari nilai L/C Impor (Sight L/C).
- Cara pembayaran : Wajib dilunasi pada saat jatuh tempo.
- Jumlah pembayaran : Sesuai dengan penarikan aksep.
- Jenis suku bunga : Dapat berubah setiap saat
- Mata uang : IDR & USD

Ketentuan
- Debitur diwajibkan mempunyai rekening giro di Bank Ekonomi
- Debitur wajib membuka L/C impor melalui Bank Ekonomi
- Debitur menandatangani perjanjian kredit atau pengakuan hutang, surat aksep dan surat atau akte lainnya.
- Pengikatan jaminan (barang yang diimpor) adalah secara fiducia.
- Barang-barang jaminan wajib diasuransikan (sesuai ketentuan yang berlaku) dan polis asuransi yang memuat klausula Bank atas nama Bank diserahkan kepada Bank.
-Debitur menanggung beban asuransi dan biaya pemasangan asuransi tersebut.

See Also :

Kredit Ekspor

July 28, 2008

Bagi pelaku UKM yang kesulitan modal, saat ini banyak lembaga pembiayaan untuk modal ekspor, salah satunya dari Bank Ekonomi.

Kredit Ekspor adalah Kredit modal kerja yang khusus diberikan untuk pembiayaan produksi sebelum ekspor (pra ekspor). Setiap penarikan fasilitas kredit dilakukan dengan penyerahan surat aksep serta copy sight / Usance L/C yang masih berlaku dan telah di verifikasi.
Pelunasan kredit dilakukan dari hasil negosiasi L/C Ekspor di Bank.

Ciri-ciri Pokok
- Waktu : Maks. 12 bulan, dapat diperpanjang
- Pemakaian kredit : Revolving
- Tujuan penggunaan : Modal kerja untuk pembiayaan barang sebelum ekspor
- Resiko kredit : Langsung (Direct)
- Jenis komitmen : Committed
- Cara penarikan : – Bebas, sesuai kebutuhan dengan pembertahuan dulu kepada Bank dan menyerahkan surat aksep dan copy L/C yang diversifikasi Bank
- Batasan penarikan fasilitas kredit maksimal dari nilai L/C ekspor sesuai kebijakan Direksi
- Cara pembayaran : Berdasarkan pencarian hasil negosiasi L/C ekspor
- Jumlah pembayaran : Sesuai dengan setiap penarikan fasilitas kredit (aksep)
- Jenis suku bunga : Dapat berubah setiap saat
- Mata uang : IDR & USD

Ketentuan
- Debitur diwajibkan mempunyai rekening giro di Bank Ekonomi
- Debitur menandatangani perjanjian kredit atau pengakuan hutang, surat aksep dan surat atau akte lainnya
- Penetapan plafond kredit didasarkan atas kebutuhan debitur dalam merealisasi barang ekspornya
- Barang-barang jaminan wajib diasuransikan (sesuai ketentuan yang berlaku) dan polis asuransi yang memuat klausula Bank atas nama Bank diserahkan kepada Bank.
- Debitur menanggung beban asuransi dan biaya pemasangan asuransi tersebut.

See Also :

33 % Pemilik property singapore adalah orang Indonesia

July 28, 2008

Sebanyak 33,3 persen properti pemukiman di Singapura, berupa apartemen dan rumah bandar atau town house dibeli orang Indonesia pada tahun 2006. Menurut Data Colliers International Singapore Research Januari 2007, pembelian properti Singapura oleh orang indonesia, tahun 2006 minimal Rp 10 triliun.

Menurut Prediksi Panangian Simanungkalit, pengamat properti, tidak kurang 100.000 apartemen di Singapura dimiliki orang indonesia. Apartemen ini ditempati saat berbisnis atau ketika melanjutkan pendidikan.

Pasar Eksport Afrika

July 28, 2008

Hingga saat ini, Afrika masih cukup jauh dari hati sebagian besar orang Indonesia. Nama Afrika memang sering disebut­-sebut dalam buku sejarah Indonesia— untuk mengenang prakarsa Indonesia dalam penyelenggaraan KAA 1955 di Bandung— namun networking Indonesia dengan benua Afrika masih terbatas pada hubungan dengan para pelaku politik resmi antar pemerintah (government-to­government). Bagaimana harus menyiasatinya?

Upaya mengembangkan hubungan dengan para pelaku ekonomi telah lama dicoba, namun belum berbuah nyata sebagaimana harapan para pencetus semangat Asia-Afrika. People-to-people contacts antara orang Indonesia dan orang Afrika masih amat terbatas. Inilah ganjalan umum pengem- besar Indonesia merupakan suatu modal politik yang cukup menjamin untuk masuk ke Afrika. Namun, mereka pun menyadari bahwa modal politik tersebut tidak serta merta bisa diterjemahkan menjadi modal ekonomi, apalagi untuk melakukan transaksi bisnis.

Keterbatasan inilah yang hendak diatasi. Para pengusaha tersebut ternyata cukup tangguh untuk tidak berpangku tangan menunggu uluran tangan pemerintah. Sikap itu, atau lebih dikenal dengan pioneering entrepreneurship, merupakan modal kerja utama para pengusaha tersebut. Tanpa bantuan intervensi pemerintah, mereka berhasil menembus pasar Afrika yang selama ini jarang ditengok pengusaha Indonesia pada umumnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang seluk­beluk kegiatan mereka, staf redaksi AKSES berhasil menemui salah seorang dari mereka, yaitu Indra Ketaren.

Indra Ketaren baru menyadari tentang potensi yang menjadi pioneering entrepreneur setelah bekerja sebagai homestaff pada KBRI Kuala Lumpur. “Kebanyakan negara Afrika sudah memiliki ekonomi berorientasi pasar yang cukup terbuka, tidak menutup diri pada perdagangan luar negeri, dan memiliki kegiatan perdagangan dengan banyak negara di dunia, terutama dengan negara maju. Persoalannya ternyata terletak pada belum adanya kemauan politik pemerintah memberikan insentif trade financing bagi para pelaku ekspor ke tujuan Afrika, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM),” katanya.

Tanpa trade financing, kondisi ini dibaca oleh pasar sebagai sinyal yang kurang menguntungkan untuk kegiatan ekspor ke Afrika. Lalu bagaimana Indra menyikapi keadaan ini? Indra menularkan pengalaman bahwa kiat menembus pasar Afrika yang paling aman (secure) dan nyaman (comfortable) adalah membuka account di sebuah bank di Singapura. Dengan begitu bisa diperoleh jaminan perlindungan hukum Singapura, termasuk akses atas financial services Singapura yang cukup terper­caya di seluruh dunia.

Dari Jakarta, Indra mengekspor barang dagangan ke Singapura, yang kemudian direekspor ke negara tujuan di Afrika. Menurut Indra, Singapura betul-betul memperlakukan para pemilik account di bank-banknya sebagai raja, meskipun pemilik account tersebut bukan warga negara Singapura. Semua transaksi menjadi lebih efisien dengan membuka bank account di Singapura, karena dari segi trade financing, L/C yang diterbitkan sebuah bank Singapura tidak perlu dikonfirmasi lagi di mana­mana.

Sedangkan L/C yang diterbitkan bank di Indonesia masih perlu dikonfirmasi lagi di Singapura, dan Singapura mengenakan fee 1,0%-1,5% dari nilai transaksi. Itu terjadi karena kekurangpercayaan pasar pada bank-bank Indonesia. Jadi, pelaku ekspor dari Indonesia memilih membuka bank account di Singapura daripada di Indonesia, untuk menghindari fee tersebut.

Lebih lanjut Indra menjelaskan, apabila negara tujuan di Afrika termasuk kategori transition, emerging or difficult economies, yang bank-banknya diragukan kemampuan pembayarannya, selaku pemiliki account di Singapura dia bisa mengakses lembaga-lembaga forfaiting internasional yang memiliki cabang di Singapura. Di seluruh dunia, lembagaforfaiting berjumlah 150 perusa­haan. Daftar lengkapnya terdapat pada home-page www.forfaiters.org.

Menurut Indra, usaha yang digeluti lembaga forfeiting adalah perdagangan pengambil resiko. Melalui cara ini, keuangan yang beroperasi di London juga memiliki secondary marketyang membuat para pelaku pasar di London dapat diakses selama 24 jam, dan sebaliknya dapat mengakses seluruh dunia selama 24 jam pula. Sehingga, transaksi bisnis sama sekali tidak dibatasi oleh waktu. Hal-hal seperti ini belum berlaku untuk Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Dengan “diputar” di London, lembaga forfaitingdapat meraih keuntungan berkali lipat dari nilai nominal semula L/C yang dimaksud tadi.

Selanjutnya Indra menjelaskan bahwa kini ia sedang memelopori beroperasinya sebuah lembaga forfaiting kelas dunia ke Indonesia, yaitu Falcon Trade Corporation. Markasnya tetap di London, pemodalnya berasal dari Uni Emirat Arab, terutama Dubai, yang ingin meraih keuntungan bisnis tanpa mengambil keuntungan dari bunga bank karena dianggap riba. Falcon termasuk 150 perusahaan yang terdaftar di www.forfaiters.org. Menurtut rencana, Falcon akan diizinkan beroperasi secara legal oleh Departemen Keuangan pada 2006 ini. Dengan demikian, kegiatan ekspor-impor ke negara-negara difficult economies bisa difasilitasi oleh Falcon.

Kelemahan Falcon adalah bahwa perusahaan tersebut tidak dapat diakses oleh UKM, karena nilai transaksi paling kecil yang dipersyaratkan adalah US$ 1 juta, suatu jumlah yang di luar kemampuan UKM pada umumnya. Padahal UKM pelaku ekspor biasanya bergerak dengan transaksi paling rendah US$ 10.000.

Menurut Indra, ada sebuah bank Belanda, yaitu NV Indover Bank, yang 51% sahamnya dimiliki Bank Indonesia, yang juga terdaftar dalam www.forfaiters.org. Kantor cabang di Indonesia terletak di Kompleks Bidakara, Pancoran, Jakarta. Artinya, Indonesia secara diam-diam sebenarnya sudah memiliki lembaga forfaiting, namun publik tidak mengetahui keberadaan lembaga tersebut. Mungkin kurang promosi, atau belum diizinkan secara hukum untuk diakses oleh publik.

Dalam pandangan Indra, apabila kita ingin para pelaku ekspor UKM dibantu trade financing-nya, maka jalan pintasnya adalah meyakinkan NV Indover Bank untuk membantu para UKM yang terbatas keuangannya. Apabila NV Indover Bank menolak, maka mereka harus bersedia menge­luarkan namanya dari daftar homepage lembaga forfaiting.

Pemerintah dapat menempuh jalan lain, yaitu membentuk lembaga forfaiting sendiri yang bisa membeli L/C dari negara-negara ber­masalah, seperti dilakukan lembaga-lembaga forfaiting yang digunakan pelaku ekspor kita di Singapura. Untuk itulah diperlukan kemauan politik pemerintah.

Ketika ditanya mengapa sebagai calon Regional Manager Falcon untuk Indonesia, dia tidak dapat membantu UKM Indonesia melalui Falcon? Indra menjawab bahwa kelemahan Falcon adalah persyaratan US$ 1 juta yang membuatnya tidak dalam posisi untuk membantu UKM Indonesia. Di­tambahkan lagi, trade financing untuk para UKM harus dibantu oleh pemerintah sendiri, baik melalui NV Indover Bank atau membentuk lembaga forfaiting versi Indonesia sendiri.

Tentang prospek ekonomi Indonesia pada umumnya? Indra menyatakan cukup optimistis asal masalah-masalah mendasar seperti keamanan, kepastian hukum, dan penciptaan iklim investasi yang kondusif dapat terus diupayakan perbaikan­nya.

Pada akhir pertemuan, Indra Ketaren meng­harapkan agar Indonesia dapat terus memper­tahankan momentum perbaikan ekonomi sekarang ini dengan memperkuat perangkat-perangkat hukum ekonomi yang bisa membuat at least Jakarta dan Surabaya setara dengan pasar keuangan Singapura.

sumber : aksesdeplu

Daya Serap Pasar

July 28, 2008

ANDA  dibuat pusing karena produk harus terjual secepat mungkin? Sebab, jika produk Anda tidak segera diserap pasar, berarti uang tidak masuk, dan otomatis pula tidak bias membeli kembali bahan baku? Dan, berbuntut proses produksi tersendat? Memang, kadang kala, pasar di dalam negeri tidak cepat menyerap produk. Ada saja kendalanya. Misalnya, waktu pendistribusian yang tidak tepatlah, konsumen tak berminatlah, atau pasar lagi lesu. Beragam penyebab itu sering dianalisa, dan tetap pula tak terpecahkan, bahkan kepala tambah nyut-nyutan.

Tapi tak usah murung. Cobalah memasuki pasar di luar negeri. Pertanyaan yang muncul adalah: ‘’Mungkinkah produk itu diserap pasar setempat?’’ Lantas, bagaimana cara memprediksi atau menduganya? Ada satu cara yang dapat dilakukan dengan sedikit modal kerja. Ini cerita pengalaman beberapa orang yang pernah melakukan prediksi daya serap pasar, yaitu memanfaatkan hasil sensus nasional.

SENSUS NASIONAL

Sensus secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu proses mendapatkan informasi tentang setiap anggota dari suatu populasi (tidak selamanya manusia). Dan sensus merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pengumpulan data. Data dari hasil sensus dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain, penelitian, voting (pengumpulan suara/pemilihan), pemasaran di dunia perdagangan ataupun perencanaan terhadap sesuatu hal.

Melalui data hasil sensus inilah yang antara lain dapat digunakan untuk memprediksi daya serap pasar terhadap sesuatu produk di sebuah negara. Tiap negara kerap melaksanakan sensus nasional pada periode tertentu. Australia, Jepang, dan New Zealand, misalnya, melaksanakan setiap lima tahun sekali. Sedangkan beberapa negara lain melakukan setiap sepuluh tahun sekali, misalnya, India, Brazil dan Hongkong. Materi yang disensus juga beragam. Ada yang sangat lengkap, meliputi segala macam aspek yang dapat dipakai untuk mengukur kemajuan suatu ekonomi negara ataupun bangsa. Ada pula yang hanya melakukannya terhadap beberapa aspek saja, misalnya, tentang perkembangan perumahan rakyat.

Semakin maju dan mapan suatu negara, biasanya hal yang disensus semakin lengkap dan bervariasi. Sedangkan negara yang belum mampu menyediakan dana bagi keperluan suatu sensus nasional terkadang hanya melakukan sensus terhadap beberapa hal saja, sehingga data dan statistik yang dihasilkan sangat terbatas. Data yang dihasilkan dari suatu sensus nasional sangat menarik dan berguna untuk ditelaah, karena dapat digunakan sebagai salah satu cara dalam mengukur kemungkinan terserapnya produk Anda.

DATA DALAM SENSUS

Data yang didapat dari suatu sensus nasional sangat beragam, misalnya, tentang: 1) populasi penduduk yang diperinci berdasarkan wilayah, jenis kelamin, jumlah pendu-duk berdasarkan usia, tingkat pendidikan dan peserta pen-didikan, pekerjaan, penghasi-lan, jumlah orang berkewar-ganegaraan asing, seperti ekspatriat, dan sebagainya; 2) ekonomi yang diperinci berdasarkan jumlah pekerja, jenis pekerjaan, jumlah pengangguran, usia pengang-guran, penghasilan, pegawai bulanan, buruh kontrak, jenis dan kapasitas industri, dan sebagainya; 3) sosial budaya yang dirinci berdasarkan jumlah penduduk menikah, usia awal pernikahan, bahasa ibu, kemampuan berbahasa asing, tingkat perceraian, jumlah murid SD SMP SMA Universitas, dan sebagainya. Selain itu; 4) fertilitas yang dirinci berdasarkan tingkat kelahiran, sebaran kelahiran, usia ibu melahirkan, tingkat kematian balita dan lansia, dan sebagainya; 5) perumahan yang dirinci berdasarkan jumlah dan luas rumah dibangun jumlah dan luas apartemen dibangun, jumlah kamar dalam rumah dan apartemen, jenis bahan bangunan serta jumlahnya yang digunakan untuk pembangunan rumah maupun apartemen, sebaran perwilayah pembangunan rumah dan apartemen baru, status rumah, kebutuhan listrik/PAM/gas, sistem pemanas ruangan (Untuk Negara yang memiliki 4 musim), dan sebagainya. Data berikutnya: 6) Industri yang dirinci lagi ke berbagai data industri, misalnya, tentang otomotif berupa merk mobil terpopuler, jenis mobil di produksi untuk setiap merk, jenis mobil terjual untuk setiap merk, jumlah produksi kendaraan angkutan umum, jumlah produksi kendaraan berat, dan sebagainya, serta: 7) dan berbagai hal yang dipandang perlu untuk disurvei oleh suatu Negara, dan hal ini akan berbeda dari  satu negara ke negara lain. Data dari hasil sensus ada yang disajikan secara cuma-cuma melalui  internet atau bulletin.

Ada pula yang harus dibeli melalui berbagai perusahaan penerbitan. Umumnya bila data tersebut sangat spesifik untuk kebutuhan yang spesifik akan diterbitkan dalam format khusus berupa buku, CD atau ujud lainnya, yang kemudian dijual kepada khalayak umum. Bagi yang bermodal pas-pasan, cukup membuka internet dan di-search lembaga-lembaga sensus yang ada di dunia. Ketik teks National Census atau National Statistical Offices, kemudian pilih salah satu alamat web yang muncul dalam list hasil searching pada internet tersebut. Dapat pula langsung masuk  situs http://statbel.fgov.be, kemudian masuk menu Information dan pilih salah menu di dalamnya sesuai kebutuhan. Lihat isinya berupa apa saja, mungkin ada yang berguna untuk kita gunakan dalam memprediksi daya serap pasar disuatu negara.

MANFAAT

Melalui data yang didapat dari hasil suatu sensus, kita dapat memanfaatkan untuk membuat suatu prediksi, kira-kira seberapa besar daya serap pasar di suatu negara termasuk perkiraan kemampuan daya beli penduduknya. Misalnya, produsen sepatu anakanak khusus balita. Anda dapat melihat data berapa pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara, kemudian berapa jumlah anak balita termasuk jenis kelaminnya, lalu penyebarannya di setiap provinsi.

Dari data ini produsen dapat memperkirakan berapa kemungkinan kebutuhan sepatu anak-anak usia balita. Produsen alas kaki lainnya pun dapat memakai data tersebut untuk hal yang sama. Misalnya, sandal, sepatu skets, dan sebagainya. Kemudian bagi produsen hiasan rumah tangga, semisal textil untuk gordijn, taplak meja, kain seprei, perlengkapan tempat tidur lainnya, pecah belah piring makan gelas ataupun karpet, tembikar, dengan melihat data sensus jumlah dan luas rumah atau apartemen dibangun.

Dari situ dapat diperkirakan berapa kebutuhan terhadap hal-hal tersebut setiap tahunnya. Sedangkan bagi produsen alat-alat kebutuhan rumah tangga, semisal korek api, sendok garpu, ember plastik atau produk-produk plastik lainnya untuk rumah tangga, dapat memanfaatkan data jumlah penduduk, jumlah perkawinan, jumlah rumah dan apartemen, jumlah orang bekerja, penghasilan orang bekerja, untuk memprediksi kemungkinan daya serap mereka terhadap produkproduk tersebut. Tidak ketinggalan bagi produsen perlengkapan otomotif, maka ia dapat membuka data statistik otomotif untuk memperkirakan daya serap produkproduknya, semisal asesoris maupun suku cadang.

Kepada produsen Indonesia, baik UKM maupun usaha besar, tinggal ditimang- timang saja sebesar apa kesediaan kita untuk sedikit menyisihkan uang bagi usaha membaca pasar guna mengetahui apakah produk kita dapat diserap pasar di luar negeri. Ingat pula: jangan menganggap rendah produk kita! Jangan berpikir sebagai barang sederhana yang dianggap tak mungkin laku di luar negeri. Ada contoh yang dapat mengejutkan pembaca. Sebuah produsen korek api Indonesia dari bahan kayu (bukan gas) berhasil menjual produknya ke negaranegara di benua Amerika Selatan, yaitu Chile, Bolivia dan Paraguay.

Dalam sebulan, korek api itu terkirim antara satu hingga dua container ke negara-negara tersebut. Sang produsen menjual produknya dengan penuh percaya diri ke negara-negara yang  penghasilan rata-rata penduduknya masih rendah di Amerika Selatan. Alasannya adalah penduduk setempat selalu membutuhkan sumber api untuk kebutuhan hidup, seperti menyalakan kompor, rokok, penerangan lilin atau lampu teplok, api unggun, alat las, alat atau mesin penghangat ruangan. Jadi mereka memerlukan sumber api dari hari ke hari.

Kemudian mengingat kemampuan atau penghasilan penduduk masih sangat rendah tidaklah cocok bila kita jual korek api gas. Maka, dieksporlah dari Indonesia korek api dari bahan kayu yang berharga murah, namun sangat dibutuhkan, dan ternyata dapat diserap oleh pasar setempat. Jadi, ada baiknya kita pun menghargai kemampuan daya beli penduduk setempat, dan carikan produk yang mereka butuhkan, namun  terjangkau kocek. Artinya, produk yang dijual tidak selalu yang berharga mahal dan berkualitas tinggi. Jika faktanya daya beli mereka rendah, ya kirimlah produk yang kualitasnya sedang-sedang saja.

See Also :

Membuka Pasar Eksport Jepang

July 28, 2008

Oleh: Djoko Agung Rahardjo

JEPANG yang berpenduduk 127 jutaan, dan memiliki pendapatan per kapita tahun 2005 mencapai $31,500, merupakan pasar yang menarik dan menggiurkan. Keberhasilan memasarkan suatu produk usaha ke Negeri Samurai ini diperlukan suatu strategi pemasaran yang jitu.

“Strategi pemasaran merupakan kunci dalam pengembangan produk untuk meningkatkan ekspor ke mancanegara, khususnya ke Jepang,” kata Mr. Hajime Kinoshita, Ketua Japan Indonesia Business Association of Kansai (JIBAK), dalam suatu lokakarya di Pekanbaru, Riau, 18 Mei 2006. Berikut ini cuplikan kiat-kiat memasuki pasar negeri Fujiyama yang disampaikannya  melalui Konsulat Jenderal RI di Osaka.

Apa yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pemasaran ke Jepang?

Menurut Kinoshita, ada empat kunci strategi pemasaran yang harus diperhatikan, yaitu, pertama,produk. Termasuk dalam perencanaan, pengembangan produk, kemasan, dan pelayanan produk. Kedua, masalah harga. Yang dimaksud di sini adalah target harga produk yang hendak dipasarkan, penyaringan harga, dan penetrasi harga. Ketiga, distribusi termasuk jaringan distribusi, distribusi fisik produk itu sendiri, dan distribusi komersial. Keempat, yang tidak kalah penting, adalah iklan penjualan, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat.
Bagaimana dengan proses pembukaan jaringan pemasarannya?

Lebih lanjut Hajimen Kinoshita, salah seorang pendiri PT National Gobel Indonesia yang juga penerima Satya Lencana Pembangunan dari Pemerintah Indonesia (1986) dan piagam “The Honor of Contribution of Overseas Economic Cooperation” dari Pemerintah Kekaisaran Jepang (1978), menjelaskan, membentuk jaringan pemasaran sangat diperlukan. Untuk membuka jaringan usaha diperlukan suatu proses, yang meliputi analisis pasar, analisis internal, pemilihan bidang usaha, penetapan strategi pemasaran, penentuan jaringan distributor, dan penentuan kondisi usaha. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa pasar, antara lain, permintaan atas barang itu sendiri, promosi, harga, distribusi barang, persaingan, dan siapa pelanggan kita. Yang dimaksudkan dengan penentuan kondisi usaha adalah perlunya memperhatikan mutu, harga, jumlah barang, kontinuitas pengiriman barang, cara pembayaran, jaminan, dan garansi.

Faktor-faktor apa saja yang menentukan keberhasilan peningkatan ekspor ke negara matahari terbit?

Keberhasilan dalam meningkatkan ekspor adalah pertamafaktor kunci dalam pemilihan mitra usaha yang baik, termasuk importir, agen, distributor, dan produsen itu sendiri. Kedua, adalah pengusaan inteligensi pasar dengan baik melalui studi kasus yang dihadapinya. Dan ketiga, kekuatan orisinal barang. Yang dimaksudkan di sini adalah penerapan teknologi, keaslian produk (bukan tiruan atau jiplakan), jaringan usaha, hubungan dengan pelanggan, jaringan dan organisasi, kemampuan administratif, know-how, pelayanan, budaya perusahaan dan kapasitas informasi yang dimilikinya.

Produk apa saja, sih yang disukai dan diterima pasar di Jepang?

Di pasaran Jepang, barang yang diproduksi dengan menggunakan teknologi tinggi lebih disukai dibandingkan dengan barang yang diproduksi dengan teknologi sederhana. Hal ini dikarenakan adanya penghargaan bagi “campur tangan manusia” dan biaya yang timbul dalam proses produksi teknologi sederhana. Sebagai contoh, sweater dengan rajutan dengan teknologi sederhana akan sulit bersaing harga. Tapi bilasweateritu memakai sulaman ornamen, kelip-kelip, atau manik-manik, akan mempunyai daya saing dan akan banyak terjual.

Bagaimana kaitannya harga dengan finishing barang?

Finishing yang sempurna dan cemerlang lebih disukai di pasaran Jepang. Kita harus berpikir bahwa nilai atau harga barang dagangan ditentukan saat pengerjaan akhir (finishing). Adanya goresan, warna yang tidak rata, finishing yang tidak bagus akan menurunkan harga/nilai barang.

Apakah aksesori barang diperlukan untuk kelengkapan suatu produk? Asesori perlu, tapi jangan memakai asesori dan barang-barang yang tidak sesuai dengan produk itu sendiri, baik bentuk maupun mutunya. Engsel,

gesper, knop, paku, handle, dan barang kecil lainnya tidak bisa diremehkan. Sebab, di dalam pasar Jepang, hal tersebut berhubungan erat dengan penentuan mutu barang secara keseluruhan.

Sebagai contoh, tas tangan yang sangat halus atau rata sekalipun, jika gesper logamnya hanya bisa bertahan enam bulan, tidak akan bisa me­muaskan pelanggan. Jadi kesimpulannya, barang­barang impor akan diterima pelanggan Jepang, pertama kali apabila hanya jika memenuhi kriteria seperti di atas.

Hal apa saja yang penting dilakukan untuk penetrasi pasar ke Jepang?

Faktor keberhasilan yang mendasar adalah, pertama, kualitas. Dalam hal membeli barang, konsumen Jepang sangat mengutamakan mutu. Perlu juga dijelaskan dengan baik mengenai isi dari rencana konsep barang. Kita juga harus selalu memperhatikan bahwa persediaan produk kita harus sama persis dengan contoh barang saat kontrak. Jika tidak, akan mudah timbul masalah.

Perhatikan juga mengenai finishing barang, karena bisa dengan mudah menjadi masalah. Kedua, orisinalitas. Konsumen Jepang selalu mengutamakan orisinalitas dan ‘’kebaruan’’ barang, baik dari sisi desain, karakteristik, performa, dan harga. Dalam hal ini, perbedaan produk dengan produk lain harus ditonjolkan.

Ketiga, tepat waktu pengiriman. Dalam pen­jualan ke Jepang, masalah ketepatan waktu pengiriman adalah syarat penting. Hal ini disebab­kan karena di Jepang ada empat musim, dan pada setiap musim pasar berubah. Sehingga penyediaan barang dengan timing/waktu yang tepat menjadi hal yang sangat penting.

Bagaimana dengan pengembangan produk itu sendiri?

Dalam mengembangkan suatu produk, pertama kita perlu membuat konsep pro­ duk dengan jelas dan membuat produksi sesuai dengan konsep tersebut. Kedua, menjaga mutu barang sesuai dengan standar dan kebutuhan tiap negara serta memenuhi spesifikasi sesuai dengan permintaan. Ketiga, menciptakan design dan produk yang cocok dengan selera konsumen, me­merhatikan fungsi dan penampilan produk dan me­lakukan pengembangan produk.

Hal-hal tersebut secara khusus mempunyai arti yang penting bagi barang keperluan (consumer goods). Keempat,membuat kemasan sebagai se-orang penjual (salesman) barang/produk. Konsu­men mendapatkan kesan pertama dari kemasan­/bungkus saat melihat produk kita berjajar dengan produk dan perusahaan lain. Kita juga harus berpikir pro­

bahwa kemasan/bungkus bisa bercerita kepada konsumen tentang isi/kandungan dari produk kita. Dan, yang kelima, produk yang berbeda (unik atau lain dari yang lain) merupakan alat pemasaran yang sangat baik/kuat. Keunikan produk akan menjadi sales point tersendiri.

Dapat dijelaskan lebih jauh mengenai ke­gagalan-kegagalan eksportir? Berdasarkan studi kasus yang dilakukan salah satu pusat penelitian menunjukkan bahwa kasus ke­gagalan dan masalah yang biasa dialami oleh eks­portir adalah: pertama, kurangnya penelitian mengenai pasar tujuan ekspor sebelum melaku­kan ekspor. Kedua, banyak kasus yang dilakukan top manajemen dalam mengambil kebijakan­/kebijakan yang tidak tepat sewaktu mengatasi masalah-masalah promosi ekspor. Tanpa tekad dan dukungan yang kuat dari top management, masalah-masalah yang besar, yang berhubungan dengan ekonomi (makro) dan orga­nisasi/perusahaan (mikro), tidak akan bisa disele­saikan. Ketiga, ada banyak kegagalan karena ke­tidakmampuan memilih importir, dealer dan agen, dengan melakukan penelitian yang valid. Keempat, tidak ada program strategi pemasaran. Ada banyak kasus, karena tergesa-gesa menerima pesanan, malah menjadi sia-sia.

Penting untuk melangkah setapak demi setapak dan membatasi pasar dengan tujuan ekspor yang menjanjikan keuntungan. Kelima, kurangnya pe­mahaman yang baik mengenai partner dan pasar. Eksportir harus melakukan promosi penjualan, memberikan insentif, jaminan (garansi), credit system, pendidikan/pelatihan, memikirkan dukung­an yang tepat lainnya bagi pasar dan partner.

Keenam,tidak adanya respon individual (pasar) yang cocok/pas akibat kesalahanggapan bahwa pasar semuanya sama. Ketujuh, pengembangan produk tidak cocok dengan karakteristik masing­masing pasar. Kedelapan, masalah bahasa. Ada banyak kasus, meskipun importir bisa memahami bahasa eksportir, tidak demikian halnya dengan orang-orang yang terkait di dalamnya.

Kesembilan, akan lebih baik bila memakai­/mempekerjakan staf ahli dari perusahaan ekspor, toko/agen yang kompeten, pedagang internasional, dan konsultan. Ke-10, banyak contoh kegagalan dari licensing (pemberian lisensi), perjanjian alih teknologi, dan perusahaan joint venture yang di­karenakan kurangnya penelitian sebelumnya. Dan ke-11, bila ada masalah dalam pelayanan setempat dan pemeliharaan mutu produk, hal itu tergantung tempat tersebut.

See Also :