Archive for July, 2008

Dukungan Bank meningkatkan Pertumbuhan Ekspor

July 28, 2008

Inilah.com, Jakarta – Sepertiga dari kredit perbankan adalah kredit konsumtif. Selebihnya untuk kredit investasi dan modal kerja. Lantas, di tengah gejolak minyak dunia, bagaimana peluang kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor?

Data Bank Indonesia (BI) per pekan ini menunjukkan, pertumbuhan kredit tahun ini telah melampaui target 22%. Hingga pekan ketiga Oktober, pertumbuhan kredit mencapai 23,95% atau senilai Rp 168 triliun. Pada akhir tahun diperkirakan tumbuh sampai 24%.

Besarnya kredit konsumtif perbankan itu mencuatkan pertanyaan. Ya, di tengah kontraksi ekonomi akibat lonjakan harga minyak dunia, seberapa besar kemampuan perbankan nasional meningkatkan penyaluran kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor di Indonesia. Pasalnya, kucuran kredit untuk menunjang pertumbuhan ekspor Indonesia pada gilirannya akan menggerakkan ekonomi Indonesia.

Sampai April 2007, total kredit konsumtif perbankan adalah Rp 236,4triliun. Kredit ekspor hanya Rp 34,01 trilun atau hanya sekitar 15% jika dibandingkan kredit konsumtif dan kredit ekspor perbankan.

“Hal ini terasa kurang. Peranan bank mestinya lebih luas untuk kegiatan ekspor, tidak hanya sektor konsumtif atau properti yang tampaknya masih dominan,’’ kata ekonom UGM Sri Adiningsih PhD kepada Hery Nugroho dari Inilah.com, Jumat (7/12).

Dari total kredit, menurut analis perbankan Eko B Supriyanto, sampai April 2007 tercatat jumlah kredit ekspor perbankan hanya 4,1% dari total kredit perbankan yang jumlahnya Rp 812,8 triliun. Bahkan, peran bank asing dalam pembiayaan ekspor per Mei 2007 cukup besar, yaitu 18,66%.

’’Jika perbankan menunjang pertumbuhan kredit kegiatan ekspor, hal itu bias meningkatkan ekspor. Sektor riil jalan dan perekonomian juga akan bergerak,’’ kata Eko B Supriyanto.

Tentu, itu bukan masalah mudah. Beberapa laporan menyingkapkan, pertumbuhan kredit pada 2008 akan didorong pertumbuhan kredit di sektor pertambangan, perkebunan, perdagangan, agrobisnis, dan infrastruktur. Sementara kredit konstruksi dan properti akan tertahan.

Berdasarkan data Inilah.com, performa kredit beberapa bank nasional belumlah mencerminkan penguatan kredit untuk kegiatan ekspor. Dalam kasus BNI, misalnya, hingga triwulan III 2007, portofolio kreditnya mencapai Rp 79,5 triliun atau meningkat 27% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 61,3%. Kredit tersebut tersebar di kredit korporasi (33,1%), usaha mikro, kecil, dan menengah/UMKM (42,3%), konsumsi (15,1%), internasional (6,8%), dan syariah (2%).

Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada kredit konsumtif yang mencapai 25%. Hingga triwulan III tahun ini, kredit konsumsi BNI menjadi Rp 12,03 triliun atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,65 triliun.

Selain kredit konsumtif, porsi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) BNI juga meningkat, yakni Rp 16 triliun hingga triwulan III tahun ini. Selama triwulan III, BNI hanya mampu menyalurkan kredit UMKM Rp 500 miliar karena kredit Rp 15,481 triliun telah tersalur hingga Juni 2007. Kredit ini terdiri atas kredit modal kerja 85% dan investasi 15%.

Pada bank BRI, kredit yang tersalurkan Rp 732 miliar pada kuartal I 2007. Total kredit BRI naik 19,17% atau senilai Rp 14,65 triliun menjadi Rp 91,06 triliun per 31 Maret 2007 dengan fokus UMKM. Hal itu membuat bank terbesar keempat di Indonesia ini mencatat laba bersih kuartal I 2007 senilai Rp 1,22 triliun atau naik 4,64% dari posisi Maret 2006 sebesar Rp 1,17 triliun.

Agaknya, kegiatan ekspor masih menunggu komitmen dan keberanian perbankan. Lagipula, ada masalah lain yang mesti dibenahi pemerintah untuk menggerakkan kegiatan ekspor, yakni permasalahan ekspor di Indonesia bukan hanya menyangkut pembiayaan. Lebih dari itu, masalahnya juga menyangkut sisi pajak, hukum, dan otonomi daerah di mana banyak hasil perdagangan ekspor dalam bentuk dolar AS, tapi hasilnya tidak masuk ke Indonesia. Ini terjadi karena biaya pajak di Indonesia lebih besar dari di luar seperti Singapura.

Tak heran jika banyak perusahaan ekspor Indonesia lebih memilih tercatat di Singapura karena pajak yang lebih rendah, termasuk pajak atas pembagian dividen. Semua itu, tentu, harus dibenahi. [I3]

See Also :

Asuransi Kredit Ekspor

July 28, 2008

Untuk memproteksi kredit ekspor, saat ini dikembangkan asuransi kredit ekspor.

Contoh produk : Asei (www.asei.co.id/produk/ask/)

Kredit Impor

July 28, 2008

Pelaku usaha saat ini juga bisa mendapatkan pendanaan untuk impor. Salah satunya adalah layanan Bank Ekonomi.

Kredit Impor adalah Kredit modal kerja yang khusus diberikan untuk membiayai barang impor. Penarikannya hanya dapat digunakan untuk pelunasan dokumen L/C Impor diluar biaya-biaya pajak impor. Penarikan baru dapat dilakukan oleh nasabah dengan menyerahkan surat aksep sebesar nilai dokumen L/C impor dikurangi nilai setoran jaminan.

Ciri-ciri Pokok
- Waktu : Maks. 6 bulan, tidak dapat diperpanjang
- Pemakaian kredit : Non Revolving
- Tujuan penggunaan : Modal kerja untuk pembiayaan barang impor
- Resiko kredit : Langsung (Direct)
- Jenis komitmen : Committed setelah L/C Impor (Sight L/C dibuka)
- Cara penarikan : Tidak bebas, batas maks. penarikan persentase dari nilai L/C Impor (Sight L/C).
- Cara pembayaran : Wajib dilunasi pada saat jatuh tempo.
- Jumlah pembayaran : Sesuai dengan penarikan aksep.
- Jenis suku bunga : Dapat berubah setiap saat
- Mata uang : IDR & USD

Ketentuan
- Debitur diwajibkan mempunyai rekening giro di Bank Ekonomi
- Debitur wajib membuka L/C impor melalui Bank Ekonomi
- Debitur menandatangani perjanjian kredit atau pengakuan hutang, surat aksep dan surat atau akte lainnya.
- Pengikatan jaminan (barang yang diimpor) adalah secara fiducia.
- Barang-barang jaminan wajib diasuransikan (sesuai ketentuan yang berlaku) dan polis asuransi yang memuat klausula Bank atas nama Bank diserahkan kepada Bank.
-Debitur menanggung beban asuransi dan biaya pemasangan asuransi tersebut.

See Also :

Kredit Ekspor

July 28, 2008

Bagi pelaku UKM yang kesulitan modal, saat ini banyak lembaga pembiayaan untuk modal ekspor, salah satunya dari Bank Ekonomi.

Kredit Ekspor adalah Kredit modal kerja yang khusus diberikan untuk pembiayaan produksi sebelum ekspor (pra ekspor). Setiap penarikan fasilitas kredit dilakukan dengan penyerahan surat aksep serta copy sight / Usance L/C yang masih berlaku dan telah di verifikasi.
Pelunasan kredit dilakukan dari hasil negosiasi L/C Ekspor di Bank.

Ciri-ciri Pokok
- Waktu : Maks. 12 bulan, dapat diperpanjang
- Pemakaian kredit : Revolving
- Tujuan penggunaan : Modal kerja untuk pembiayaan barang sebelum ekspor
- Resiko kredit : Langsung (Direct)
- Jenis komitmen : Committed
- Cara penarikan : – Bebas, sesuai kebutuhan dengan pembertahuan dulu kepada Bank dan menyerahkan surat aksep dan copy L/C yang diversifikasi Bank
- Batasan penarikan fasilitas kredit maksimal dari nilai L/C ekspor sesuai kebijakan Direksi
- Cara pembayaran : Berdasarkan pencarian hasil negosiasi L/C ekspor
- Jumlah pembayaran : Sesuai dengan setiap penarikan fasilitas kredit (aksep)
- Jenis suku bunga : Dapat berubah setiap saat
- Mata uang : IDR & USD

Ketentuan
- Debitur diwajibkan mempunyai rekening giro di Bank Ekonomi
- Debitur menandatangani perjanjian kredit atau pengakuan hutang, surat aksep dan surat atau akte lainnya
- Penetapan plafond kredit didasarkan atas kebutuhan debitur dalam merealisasi barang ekspornya
- Barang-barang jaminan wajib diasuransikan (sesuai ketentuan yang berlaku) dan polis asuransi yang memuat klausula Bank atas nama Bank diserahkan kepada Bank.
- Debitur menanggung beban asuransi dan biaya pemasangan asuransi tersebut.

See Also :

33 % Pemilik property singapore adalah orang Indonesia

July 28, 2008

Sebanyak 33,3 persen properti pemukiman di Singapura, berupa apartemen dan rumah bandar atau town house dibeli orang Indonesia pada tahun 2006. Menurut Data Colliers International Singapore Research Januari 2007, pembelian properti Singapura oleh orang indonesia, tahun 2006 minimal Rp 10 triliun.

Menurut Prediksi Panangian Simanungkalit, pengamat properti, tidak kurang 100.000 apartemen di Singapura dimiliki orang indonesia. Apartemen ini ditempati saat berbisnis atau ketika melanjutkan pendidikan.

Pasar Eksport Afrika

July 28, 2008

Hingga saat ini, Afrika masih cukup jauh dari hati sebagian besar orang Indonesia. Nama Afrika memang sering disebut­-sebut dalam buku sejarah Indonesia— untuk mengenang prakarsa Indonesia dalam penyelenggaraan KAA 1955 di Bandung— namun networking Indonesia dengan benua Afrika masih terbatas pada hubungan dengan para pelaku politik resmi antar pemerintah (government-to­government). Bagaimana harus menyiasatinya?

Upaya mengembangkan hubungan dengan para pelaku ekonomi telah lama dicoba, namun belum berbuah nyata sebagaimana harapan para pencetus semangat Asia-Afrika. People-to-people contacts antara orang Indonesia dan orang Afrika masih amat terbatas. Inilah ganjalan umum pengem- besar Indonesia merupakan suatu modal politik yang cukup menjamin untuk masuk ke Afrika. Namun, mereka pun menyadari bahwa modal politik tersebut tidak serta merta bisa diterjemahkan menjadi modal ekonomi, apalagi untuk melakukan transaksi bisnis.

Keterbatasan inilah yang hendak diatasi. Para pengusaha tersebut ternyata cukup tangguh untuk tidak berpangku tangan menunggu uluran tangan pemerintah. Sikap itu, atau lebih dikenal dengan pioneering entrepreneurship, merupakan modal kerja utama para pengusaha tersebut. Tanpa bantuan intervensi pemerintah, mereka berhasil menembus pasar Afrika yang selama ini jarang ditengok pengusaha Indonesia pada umumnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang seluk­beluk kegiatan mereka, staf redaksi AKSES berhasil menemui salah seorang dari mereka, yaitu Indra Ketaren.

Indra Ketaren baru menyadari tentang potensi yang menjadi pioneering entrepreneur setelah bekerja sebagai homestaff pada KBRI Kuala Lumpur. “Kebanyakan negara Afrika sudah memiliki ekonomi berorientasi pasar yang cukup terbuka, tidak menutup diri pada perdagangan luar negeri, dan memiliki kegiatan perdagangan dengan banyak negara di dunia, terutama dengan negara maju. Persoalannya ternyata terletak pada belum adanya kemauan politik pemerintah memberikan insentif trade financing bagi para pelaku ekspor ke tujuan Afrika, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM),” katanya.

Tanpa trade financing, kondisi ini dibaca oleh pasar sebagai sinyal yang kurang menguntungkan untuk kegiatan ekspor ke Afrika. Lalu bagaimana Indra menyikapi keadaan ini? Indra menularkan pengalaman bahwa kiat menembus pasar Afrika yang paling aman (secure) dan nyaman (comfortable) adalah membuka account di sebuah bank di Singapura. Dengan begitu bisa diperoleh jaminan perlindungan hukum Singapura, termasuk akses atas financial services Singapura yang cukup terper­caya di seluruh dunia.

Dari Jakarta, Indra mengekspor barang dagangan ke Singapura, yang kemudian direekspor ke negara tujuan di Afrika. Menurut Indra, Singapura betul-betul memperlakukan para pemilik account di bank-banknya sebagai raja, meskipun pemilik account tersebut bukan warga negara Singapura. Semua transaksi menjadi lebih efisien dengan membuka bank account di Singapura, karena dari segi trade financing, L/C yang diterbitkan sebuah bank Singapura tidak perlu dikonfirmasi lagi di mana­mana.

Sedangkan L/C yang diterbitkan bank di Indonesia masih perlu dikonfirmasi lagi di Singapura, dan Singapura mengenakan fee 1,0%-1,5% dari nilai transaksi. Itu terjadi karena kekurangpercayaan pasar pada bank-bank Indonesia. Jadi, pelaku ekspor dari Indonesia memilih membuka bank account di Singapura daripada di Indonesia, untuk menghindari fee tersebut.

Lebih lanjut Indra menjelaskan, apabila negara tujuan di Afrika termasuk kategori transition, emerging or difficult economies, yang bank-banknya diragukan kemampuan pembayarannya, selaku pemiliki account di Singapura dia bisa mengakses lembaga-lembaga forfaiting internasional yang memiliki cabang di Singapura. Di seluruh dunia, lembagaforfaiting berjumlah 150 perusa­haan. Daftar lengkapnya terdapat pada home-page www.forfaiters.org.

Menurut Indra, usaha yang digeluti lembaga forfeiting adalah perdagangan pengambil resiko. Melalui cara ini, keuangan yang beroperasi di London juga memiliki secondary marketyang membuat para pelaku pasar di London dapat diakses selama 24 jam, dan sebaliknya dapat mengakses seluruh dunia selama 24 jam pula. Sehingga, transaksi bisnis sama sekali tidak dibatasi oleh waktu. Hal-hal seperti ini belum berlaku untuk Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Dengan “diputar” di London, lembaga forfaitingdapat meraih keuntungan berkali lipat dari nilai nominal semula L/C yang dimaksud tadi.

Selanjutnya Indra menjelaskan bahwa kini ia sedang memelopori beroperasinya sebuah lembaga forfaiting kelas dunia ke Indonesia, yaitu Falcon Trade Corporation. Markasnya tetap di London, pemodalnya berasal dari Uni Emirat Arab, terutama Dubai, yang ingin meraih keuntungan bisnis tanpa mengambil keuntungan dari bunga bank karena dianggap riba. Falcon termasuk 150 perusahaan yang terdaftar di www.forfaiters.org. Menurtut rencana, Falcon akan diizinkan beroperasi secara legal oleh Departemen Keuangan pada 2006 ini. Dengan demikian, kegiatan ekspor-impor ke negara-negara difficult economies bisa difasilitasi oleh Falcon.

Kelemahan Falcon adalah bahwa perusahaan tersebut tidak dapat diakses oleh UKM, karena nilai transaksi paling kecil yang dipersyaratkan adalah US$ 1 juta, suatu jumlah yang di luar kemampuan UKM pada umumnya. Padahal UKM pelaku ekspor biasanya bergerak dengan transaksi paling rendah US$ 10.000.

Menurut Indra, ada sebuah bank Belanda, yaitu NV Indover Bank, yang 51% sahamnya dimiliki Bank Indonesia, yang juga terdaftar dalam www.forfaiters.org. Kantor cabang di Indonesia terletak di Kompleks Bidakara, Pancoran, Jakarta. Artinya, Indonesia secara diam-diam sebenarnya sudah memiliki lembaga forfaiting, namun publik tidak mengetahui keberadaan lembaga tersebut. Mungkin kurang promosi, atau belum diizinkan secara hukum untuk diakses oleh publik.

Dalam pandangan Indra, apabila kita ingin para pelaku ekspor UKM dibantu trade financing-nya, maka jalan pintasnya adalah meyakinkan NV Indover Bank untuk membantu para UKM yang terbatas keuangannya. Apabila NV Indover Bank menolak, maka mereka harus bersedia menge­luarkan namanya dari daftar homepage lembaga forfaiting.

Pemerintah dapat menempuh jalan lain, yaitu membentuk lembaga forfaiting sendiri yang bisa membeli L/C dari negara-negara ber­masalah, seperti dilakukan lembaga-lembaga forfaiting yang digunakan pelaku ekspor kita di Singapura. Untuk itulah diperlukan kemauan politik pemerintah.

Ketika ditanya mengapa sebagai calon Regional Manager Falcon untuk Indonesia, dia tidak dapat membantu UKM Indonesia melalui Falcon? Indra menjawab bahwa kelemahan Falcon adalah persyaratan US$ 1 juta yang membuatnya tidak dalam posisi untuk membantu UKM Indonesia. Di­tambahkan lagi, trade financing untuk para UKM harus dibantu oleh pemerintah sendiri, baik melalui NV Indover Bank atau membentuk lembaga forfaiting versi Indonesia sendiri.

Tentang prospek ekonomi Indonesia pada umumnya? Indra menyatakan cukup optimistis asal masalah-masalah mendasar seperti keamanan, kepastian hukum, dan penciptaan iklim investasi yang kondusif dapat terus diupayakan perbaikan­nya.

Pada akhir pertemuan, Indra Ketaren meng­harapkan agar Indonesia dapat terus memper­tahankan momentum perbaikan ekonomi sekarang ini dengan memperkuat perangkat-perangkat hukum ekonomi yang bisa membuat at least Jakarta dan Surabaya setara dengan pasar keuangan Singapura.

sumber : aksesdeplu

Daya Serap Pasar

July 28, 2008

ANDA  dibuat pusing karena produk harus terjual secepat mungkin? Sebab, jika produk Anda tidak segera diserap pasar, berarti uang tidak masuk, dan otomatis pula tidak bias membeli kembali bahan baku? Dan, berbuntut proses produksi tersendat? Memang, kadang kala, pasar di dalam negeri tidak cepat menyerap produk. Ada saja kendalanya. Misalnya, waktu pendistribusian yang tidak tepatlah, konsumen tak berminatlah, atau pasar lagi lesu. Beragam penyebab itu sering dianalisa, dan tetap pula tak terpecahkan, bahkan kepala tambah nyut-nyutan.

Tapi tak usah murung. Cobalah memasuki pasar di luar negeri. Pertanyaan yang muncul adalah: ‘’Mungkinkah produk itu diserap pasar setempat?’’ Lantas, bagaimana cara memprediksi atau menduganya? Ada satu cara yang dapat dilakukan dengan sedikit modal kerja. Ini cerita pengalaman beberapa orang yang pernah melakukan prediksi daya serap pasar, yaitu memanfaatkan hasil sensus nasional.

SENSUS NASIONAL

Sensus secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu proses mendapatkan informasi tentang setiap anggota dari suatu populasi (tidak selamanya manusia). Dan sensus merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pengumpulan data. Data dari hasil sensus dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain, penelitian, voting (pengumpulan suara/pemilihan), pemasaran di dunia perdagangan ataupun perencanaan terhadap sesuatu hal.

Melalui data hasil sensus inilah yang antara lain dapat digunakan untuk memprediksi daya serap pasar terhadap sesuatu produk di sebuah negara. Tiap negara kerap melaksanakan sensus nasional pada periode tertentu. Australia, Jepang, dan New Zealand, misalnya, melaksanakan setiap lima tahun sekali. Sedangkan beberapa negara lain melakukan setiap sepuluh tahun sekali, misalnya, India, Brazil dan Hongkong. Materi yang disensus juga beragam. Ada yang sangat lengkap, meliputi segala macam aspek yang dapat dipakai untuk mengukur kemajuan suatu ekonomi negara ataupun bangsa. Ada pula yang hanya melakukannya terhadap beberapa aspek saja, misalnya, tentang perkembangan perumahan rakyat.

Semakin maju dan mapan suatu negara, biasanya hal yang disensus semakin lengkap dan bervariasi. Sedangkan negara yang belum mampu menyediakan dana bagi keperluan suatu sensus nasional terkadang hanya melakukan sensus terhadap beberapa hal saja, sehingga data dan statistik yang dihasilkan sangat terbatas. Data yang dihasilkan dari suatu sensus nasional sangat menarik dan berguna untuk ditelaah, karena dapat digunakan sebagai salah satu cara dalam mengukur kemungkinan terserapnya produk Anda.

DATA DALAM SENSUS

Data yang didapat dari suatu sensus nasional sangat beragam, misalnya, tentang: 1) populasi penduduk yang diperinci berdasarkan wilayah, jenis kelamin, jumlah pendu-duk berdasarkan usia, tingkat pendidikan dan peserta pen-didikan, pekerjaan, penghasi-lan, jumlah orang berkewar-ganegaraan asing, seperti ekspatriat, dan sebagainya; 2) ekonomi yang diperinci berdasarkan jumlah pekerja, jenis pekerjaan, jumlah pengangguran, usia pengang-guran, penghasilan, pegawai bulanan, buruh kontrak, jenis dan kapasitas industri, dan sebagainya; 3) sosial budaya yang dirinci berdasarkan jumlah penduduk menikah, usia awal pernikahan, bahasa ibu, kemampuan berbahasa asing, tingkat perceraian, jumlah murid SD SMP SMA Universitas, dan sebagainya. Selain itu; 4) fertilitas yang dirinci berdasarkan tingkat kelahiran, sebaran kelahiran, usia ibu melahirkan, tingkat kematian balita dan lansia, dan sebagainya; 5) perumahan yang dirinci berdasarkan jumlah dan luas rumah dibangun jumlah dan luas apartemen dibangun, jumlah kamar dalam rumah dan apartemen, jenis bahan bangunan serta jumlahnya yang digunakan untuk pembangunan rumah maupun apartemen, sebaran perwilayah pembangunan rumah dan apartemen baru, status rumah, kebutuhan listrik/PAM/gas, sistem pemanas ruangan (Untuk Negara yang memiliki 4 musim), dan sebagainya. Data berikutnya: 6) Industri yang dirinci lagi ke berbagai data industri, misalnya, tentang otomotif berupa merk mobil terpopuler, jenis mobil di produksi untuk setiap merk, jenis mobil terjual untuk setiap merk, jumlah produksi kendaraan angkutan umum, jumlah produksi kendaraan berat, dan sebagainya, serta: 7) dan berbagai hal yang dipandang perlu untuk disurvei oleh suatu Negara, dan hal ini akan berbeda dari  satu negara ke negara lain. Data dari hasil sensus ada yang disajikan secara cuma-cuma melalui  internet atau bulletin.

Ada pula yang harus dibeli melalui berbagai perusahaan penerbitan. Umumnya bila data tersebut sangat spesifik untuk kebutuhan yang spesifik akan diterbitkan dalam format khusus berupa buku, CD atau ujud lainnya, yang kemudian dijual kepada khalayak umum. Bagi yang bermodal pas-pasan, cukup membuka internet dan di-search lembaga-lembaga sensus yang ada di dunia. Ketik teks National Census atau National Statistical Offices, kemudian pilih salah satu alamat web yang muncul dalam list hasil searching pada internet tersebut. Dapat pula langsung masuk  situs http://statbel.fgov.be, kemudian masuk menu Information dan pilih salah menu di dalamnya sesuai kebutuhan. Lihat isinya berupa apa saja, mungkin ada yang berguna untuk kita gunakan dalam memprediksi daya serap pasar disuatu negara.

MANFAAT

Melalui data yang didapat dari hasil suatu sensus, kita dapat memanfaatkan untuk membuat suatu prediksi, kira-kira seberapa besar daya serap pasar di suatu negara termasuk perkiraan kemampuan daya beli penduduknya. Misalnya, produsen sepatu anakanak khusus balita. Anda dapat melihat data berapa pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara, kemudian berapa jumlah anak balita termasuk jenis kelaminnya, lalu penyebarannya di setiap provinsi.

Dari data ini produsen dapat memperkirakan berapa kemungkinan kebutuhan sepatu anak-anak usia balita. Produsen alas kaki lainnya pun dapat memakai data tersebut untuk hal yang sama. Misalnya, sandal, sepatu skets, dan sebagainya. Kemudian bagi produsen hiasan rumah tangga, semisal textil untuk gordijn, taplak meja, kain seprei, perlengkapan tempat tidur lainnya, pecah belah piring makan gelas ataupun karpet, tembikar, dengan melihat data sensus jumlah dan luas rumah atau apartemen dibangun.

Dari situ dapat diperkirakan berapa kebutuhan terhadap hal-hal tersebut setiap tahunnya. Sedangkan bagi produsen alat-alat kebutuhan rumah tangga, semisal korek api, sendok garpu, ember plastik atau produk-produk plastik lainnya untuk rumah tangga, dapat memanfaatkan data jumlah penduduk, jumlah perkawinan, jumlah rumah dan apartemen, jumlah orang bekerja, penghasilan orang bekerja, untuk memprediksi kemungkinan daya serap mereka terhadap produkproduk tersebut. Tidak ketinggalan bagi produsen perlengkapan otomotif, maka ia dapat membuka data statistik otomotif untuk memperkirakan daya serap produkproduknya, semisal asesoris maupun suku cadang.

Kepada produsen Indonesia, baik UKM maupun usaha besar, tinggal ditimang- timang saja sebesar apa kesediaan kita untuk sedikit menyisihkan uang bagi usaha membaca pasar guna mengetahui apakah produk kita dapat diserap pasar di luar negeri. Ingat pula: jangan menganggap rendah produk kita! Jangan berpikir sebagai barang sederhana yang dianggap tak mungkin laku di luar negeri. Ada contoh yang dapat mengejutkan pembaca. Sebuah produsen korek api Indonesia dari bahan kayu (bukan gas) berhasil menjual produknya ke negaranegara di benua Amerika Selatan, yaitu Chile, Bolivia dan Paraguay.

Dalam sebulan, korek api itu terkirim antara satu hingga dua container ke negara-negara tersebut. Sang produsen menjual produknya dengan penuh percaya diri ke negara-negara yang  penghasilan rata-rata penduduknya masih rendah di Amerika Selatan. Alasannya adalah penduduk setempat selalu membutuhkan sumber api untuk kebutuhan hidup, seperti menyalakan kompor, rokok, penerangan lilin atau lampu teplok, api unggun, alat las, alat atau mesin penghangat ruangan. Jadi mereka memerlukan sumber api dari hari ke hari.

Kemudian mengingat kemampuan atau penghasilan penduduk masih sangat rendah tidaklah cocok bila kita jual korek api gas. Maka, dieksporlah dari Indonesia korek api dari bahan kayu yang berharga murah, namun sangat dibutuhkan, dan ternyata dapat diserap oleh pasar setempat. Jadi, ada baiknya kita pun menghargai kemampuan daya beli penduduk setempat, dan carikan produk yang mereka butuhkan, namun  terjangkau kocek. Artinya, produk yang dijual tidak selalu yang berharga mahal dan berkualitas tinggi. Jika faktanya daya beli mereka rendah, ya kirimlah produk yang kualitasnya sedang-sedang saja.

See Also :

Trik Bisnis di Thailand

July 28, 2008

Oleh : THEODORA ELFANI P

Lain padang lain ilalang. Lain tempat berdagang lain pula kebiasaan

PEPATAH ini telah sering kali kita dengar. Memang, setiap tempat baru pastilah memiliki ciri yang berbeda dengan budaya asal kita. Untuk itu, ada baiknya bila kita bisa cepat beradaptasi dan memahami budaya setempat sehingga kita tidak salah langkah dalam bertindak. Dalam bisnis, sikap ini tepat karena akan melapangkan jalan pertemanan dan itu berarti jejaring dan peluang berbisnis.

Tulisan ini akan sedikit mengulas etika berbisnis yang lazim berlaku di Thailand. Mengapa Thailand? Thailand adalah salah satu negara tetangga kita, yang meskipun kecil namun tetap bukan negara yang bisa dipandang sebelah mata. Survei Japan External Trade Organization (JETRO) tahun 2006 menyatakan bahwa Thailand merupakan lokasi yang optimal bagi pengembangan production base maupun sales base dalam waktu 5-10 tahun mendatang.

Bagi masyarakat Indonesia, Thailand lebih dikenal sebagai tempat wisata. Bangkok, Chiang Mai, Chiang Rai, pantai Phuket dan Pattaya, adalah lokasi-lokasi eksotis yang senantiasa menarik hati wisatawan. Thailand adalah juga salah satu pilihan surga untuk berbelanja dengan barang-barangnya yang variatif dan relatif murah.

Namun, tentunya bukan saatnya lagi hanya menjadikan Thailand sebagai tujuan wisata dan belanja. Sebab sekaranglah waktunya mencari peluang bisnis dan investasi di negeri Hajah Putih ini. Untuk itu, berikut adalah beberapa hal sederhana yang dapat diperhatikan untuk mengoptimalkan upaya bisnis di Thailand.

Mengerti budaya setempat

Pebisnis Thailand lebih menyukai berbisnis dengan orang yang mereka hormati. Artinya, membangun hubungan bisnis memerlukan proses berkelanjutan, yang tidak bisa berhenti pada pertemuan pertama. Selain itu, pemberian suvenir biasanya tidak dilakukan pada pertemuan pertama. Tetapi, pada pertemuan kedua, boleh saja bila kita ingin memberi suvenir, terutama barang-barang khas dari tempat kita berasal. Dalam membungkus barang pemberian hindari warna hijau, hitam dan biru karena warna ini berasosiasi dengan kesedihan. Pembungkus warna merah cocok sekali diberikan untuk orang Chinese Thai.

Peringkat bagi masyarakat Thailand memiliki arti yang penting. Penghormatan mereka pada orang-orang yang lebih tua membuat tata urutan atau hierarki sangatlah layak untuk diperhatikan.

Sulit bagi orang Thailand untuk berkata tidak. Oleh karenanya, kita harus memperhatikan bahasa non verbal mereka untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran. Gerak tubuh dan ekspresi lainnya juga penting mengingat acapkali bahasa non verbal ini lebih bermakna ketimbang bahasa verbal. Perlu juga dipahami bahwa senyum bagi orang Thailand bisa mengandung beragam arti mulai dari yang paling positif sampai yang negatif.

Perihal nama, masyarakat Thailand biasanya menggunakan artikel Khun saat memanggil lawan bicara. Artikel Khun ini digunakan di depan nama orang tersebut (baik pria maupun wanita). Penggunaan Khun adalah cara yang dianggap sopan untuk menyapa, khususnya dalam suasana formal. Contohnya Mr. Thomas, maka ia akan disapa dengan sebutan Khun Thomas.

Dalam membuka percakapan, orang Thailand, secara tradisional, tidak biasa berjabat tangan. Mereka cenderung untuk mengatupkan telapak tangan seperti pada posisi berdoa dan mengangkatnya sampai ke depan muka, sambil menundukkan kepala. Ini disebut wai, dan diyakini sebagai cara yang lebih sopan untuk memberi salam sekaligus penghormatan. Wai biasanya dilakukan oleh mereka yang lebih muda, baik dari segi usia maupun posisi, kepada mereka yang lebih tua atau pun sangat dihormati. Sebaliknya, mereka bisa membalas dengan menganggukkan kepala. Orang Thai menggunakan wai untuk mengatakan halo, terima kasih dan selamat tinggal.

Setelah memberi salam dan atau berjabat tangan, maka saatnya untuk memberikan kartu nama. Dalam hal ini, sebaiknya kartu nama diberikan kepada orang yang lebih senior terlebih dahulu. Cara memberikan kartu nama adalah dengan tangan kanan serta dengan arah tulisan yang menghadap si penerima. Mungkin sama dengan kebiasaan di beberapa negara Asia lainnya, adalah sopan bila saat menerima kartu nama, kita tidak langsung memasukkannya ke dalam dompet atau tas melainkan dibaca atau dilihat selama beberapa saat untuk kemudian sedikit memberikan komentar. Ini akan memberikan kesan personal dan penghargaan terhadap lawan bicara.

Mengerti peluang pasar di Thailand

Thailand adalah negara pengekspor beras terbesar serta pengimpor udang terbesar. Jenis-jenis produk pertanian lainnya antara lain kelapa, jagung, karet, kedelai dan tapioka. Pada tahun 2006, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan hanya menyumbang 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) namun menyerap 39% tenaga kerja. Hal ini terbalik dengan sektor industri di mana menyumbang 44.9% terhadap GDP namun hanya menyerap 23% tenaga kerja. Thailand juga merupakan pusat dari industri manufaktur otomotif untuk pasar ASEAN. Ekspansi dari industri ini memberikan banyak keuntungan bagi industri baja domestik mereka.

Selain itu, industri pariwisata juga memberikan kontribusi yang besar bagi ekonomi Thailand (6% dari GDP). Sumber pendapatan berasal antara lain dari pertukaran valuta asing serta berkembangnya industri kerajinan tangan karena hasil-hasilnya merupakan suvenir yang siap jual untuk para wisatawan.

Industri yang tengah berkembang di Thailand saat ini adalah tekstil dan garmen, pemrosesan hasil pertanian, sayuran, rokok, semen, manufaktur ringan seperti perhiasan, barang-barang elektronik dan komponennya, komputer dan suku cadangnya, furnitur, plastik. Thailand juga terkenal sebagai salah satu produsen terbesar beras, wolfram, dan kaleng di dunia.

Hal lain yang layak diperhatikan adalah perihal jam kerja dan hari libur. Hari kerja di Thailand adalah Senin sampai Jumat, dengan beberapa kantor yang buka setengah hari pada hari Sabtu. Meskipun begitu, tidak lazim bagi orang Thailand untuk melakukan business meeting pada hari Sabtu. Juga, ada beberapa hari yang sebaiknya dihindari bila ingin melakukan business visit / meeting ke Thailand, seperti misalnya awal bulan April, antara lain tanggal 6 April yang merupakan Chakri Days serta 13-15 April yang merupakan Tahun Baru Thai (Songkran). Selain itu, minggu pertama Mei juga sebaiknya dihindari karena pada tanggal 1 dan 5 Mei adalah hari libur bagi masyarakat Thailand.

Sebagai informasi tambahan, ada beberapa tempat berbelanja sekaligus mungkin juga peluang yang patut untuk dicermati, antara lain Chatuchak (atau Jatujak) weekend market yang merupakan pasar terbesar di Thailand, yang terletak di Bangkok, dan mungkin saja terbesar di dunia. Dalam pasar ini terdiri dari 15.000 kios. Diperkirakan di pasar ini terdapat 200.000-300.000 pengunjung setiap harinya. Sesuai dengan namanya weekend market, maka sebagian besar kios hanya buka pada Sabtu dan Minggu.

Pasar ini menjual berbagai macam barang termasuk pakaian, alat rumah tangga, barang kerajinan khas, barang-barang koleksi, makanan sampai pada binatang. Selain pasar Chatuchak ini terdapat banyak lagi pasar yang potensial di Bangkok antara lain Suan Lum Night Bazaar, Pratunam Market dan Patpong Night Market yang merupakan daerah tujuan turis, dan lain sebagainya.

Mencari peluang bisnis di Thailand memang mudah-mudah sulit. Tetapi, yakinlah bahwa semua akan terasa lebih mudah bila kita mampu memahami budaya dan kebutuhan mereka. Keseriusan dalam upaya memahami budaya dan peluang pasar ini hendaknya ditindaklanjuti dalam bentuk-bentuk kerjasama riil.

Keuletan dalam bekerja dan faktor kedekatan (baik dari segi lokasi maupun budaya sebagai sesama orang Asia) adalah faktor-faktor kunci yang dapat dimaksimalkan untuk menggapai sukses di tanah negeri Gajah Putih, Thailand. Siapa tahu anda dapat memasok maupun menjual produk-produk kita untuk dipasarkan di Thailand. Semoga sukses.

sumber : deplu.com

See Also :

Membuka Pasar Eksport Jepang

July 28, 2008

Oleh: Djoko Agung Rahardjo

JEPANG yang berpenduduk 127 jutaan, dan memiliki pendapatan per kapita tahun 2005 mencapai $31,500, merupakan pasar yang menarik dan menggiurkan. Keberhasilan memasarkan suatu produk usaha ke Negeri Samurai ini diperlukan suatu strategi pemasaran yang jitu.

“Strategi pemasaran merupakan kunci dalam pengembangan produk untuk meningkatkan ekspor ke mancanegara, khususnya ke Jepang,” kata Mr. Hajime Kinoshita, Ketua Japan Indonesia Business Association of Kansai (JIBAK), dalam suatu lokakarya di Pekanbaru, Riau, 18 Mei 2006. Berikut ini cuplikan kiat-kiat memasuki pasar negeri Fujiyama yang disampaikannya  melalui Konsulat Jenderal RI di Osaka.

Apa yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pemasaran ke Jepang?

Menurut Kinoshita, ada empat kunci strategi pemasaran yang harus diperhatikan, yaitu, pertama,produk. Termasuk dalam perencanaan, pengembangan produk, kemasan, dan pelayanan produk. Kedua, masalah harga. Yang dimaksud di sini adalah target harga produk yang hendak dipasarkan, penyaringan harga, dan penetrasi harga. Ketiga, distribusi termasuk jaringan distribusi, distribusi fisik produk itu sendiri, dan distribusi komersial. Keempat, yang tidak kalah penting, adalah iklan penjualan, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat.
Bagaimana dengan proses pembukaan jaringan pemasarannya?

Lebih lanjut Hajimen Kinoshita, salah seorang pendiri PT National Gobel Indonesia yang juga penerima Satya Lencana Pembangunan dari Pemerintah Indonesia (1986) dan piagam “The Honor of Contribution of Overseas Economic Cooperation” dari Pemerintah Kekaisaran Jepang (1978), menjelaskan, membentuk jaringan pemasaran sangat diperlukan. Untuk membuka jaringan usaha diperlukan suatu proses, yang meliputi analisis pasar, analisis internal, pemilihan bidang usaha, penetapan strategi pemasaran, penentuan jaringan distributor, dan penentuan kondisi usaha. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa pasar, antara lain, permintaan atas barang itu sendiri, promosi, harga, distribusi barang, persaingan, dan siapa pelanggan kita. Yang dimaksudkan dengan penentuan kondisi usaha adalah perlunya memperhatikan mutu, harga, jumlah barang, kontinuitas pengiriman barang, cara pembayaran, jaminan, dan garansi.

Faktor-faktor apa saja yang menentukan keberhasilan peningkatan ekspor ke negara matahari terbit?

Keberhasilan dalam meningkatkan ekspor adalah pertamafaktor kunci dalam pemilihan mitra usaha yang baik, termasuk importir, agen, distributor, dan produsen itu sendiri. Kedua, adalah pengusaan inteligensi pasar dengan baik melalui studi kasus yang dihadapinya. Dan ketiga, kekuatan orisinal barang. Yang dimaksudkan di sini adalah penerapan teknologi, keaslian produk (bukan tiruan atau jiplakan), jaringan usaha, hubungan dengan pelanggan, jaringan dan organisasi, kemampuan administratif, know-how, pelayanan, budaya perusahaan dan kapasitas informasi yang dimilikinya.

Produk apa saja, sih yang disukai dan diterima pasar di Jepang?

Di pasaran Jepang, barang yang diproduksi dengan menggunakan teknologi tinggi lebih disukai dibandingkan dengan barang yang diproduksi dengan teknologi sederhana. Hal ini dikarenakan adanya penghargaan bagi “campur tangan manusia” dan biaya yang timbul dalam proses produksi teknologi sederhana. Sebagai contoh, sweater dengan rajutan dengan teknologi sederhana akan sulit bersaing harga. Tapi bilasweateritu memakai sulaman ornamen, kelip-kelip, atau manik-manik, akan mempunyai daya saing dan akan banyak terjual.

Bagaimana kaitannya harga dengan finishing barang?

Finishing yang sempurna dan cemerlang lebih disukai di pasaran Jepang. Kita harus berpikir bahwa nilai atau harga barang dagangan ditentukan saat pengerjaan akhir (finishing). Adanya goresan, warna yang tidak rata, finishing yang tidak bagus akan menurunkan harga/nilai barang.

Apakah aksesori barang diperlukan untuk kelengkapan suatu produk? Asesori perlu, tapi jangan memakai asesori dan barang-barang yang tidak sesuai dengan produk itu sendiri, baik bentuk maupun mutunya. Engsel,

gesper, knop, paku, handle, dan barang kecil lainnya tidak bisa diremehkan. Sebab, di dalam pasar Jepang, hal tersebut berhubungan erat dengan penentuan mutu barang secara keseluruhan.

Sebagai contoh, tas tangan yang sangat halus atau rata sekalipun, jika gesper logamnya hanya bisa bertahan enam bulan, tidak akan bisa me­muaskan pelanggan. Jadi kesimpulannya, barang­barang impor akan diterima pelanggan Jepang, pertama kali apabila hanya jika memenuhi kriteria seperti di atas.

Hal apa saja yang penting dilakukan untuk penetrasi pasar ke Jepang?

Faktor keberhasilan yang mendasar adalah, pertama, kualitas. Dalam hal membeli barang, konsumen Jepang sangat mengutamakan mutu. Perlu juga dijelaskan dengan baik mengenai isi dari rencana konsep barang. Kita juga harus selalu memperhatikan bahwa persediaan produk kita harus sama persis dengan contoh barang saat kontrak. Jika tidak, akan mudah timbul masalah.

Perhatikan juga mengenai finishing barang, karena bisa dengan mudah menjadi masalah. Kedua, orisinalitas. Konsumen Jepang selalu mengutamakan orisinalitas dan ‘’kebaruan’’ barang, baik dari sisi desain, karakteristik, performa, dan harga. Dalam hal ini, perbedaan produk dengan produk lain harus ditonjolkan.

Ketiga, tepat waktu pengiriman. Dalam pen­jualan ke Jepang, masalah ketepatan waktu pengiriman adalah syarat penting. Hal ini disebab­kan karena di Jepang ada empat musim, dan pada setiap musim pasar berubah. Sehingga penyediaan barang dengan timing/waktu yang tepat menjadi hal yang sangat penting.

Bagaimana dengan pengembangan produk itu sendiri?

Dalam mengembangkan suatu produk, pertama kita perlu membuat konsep pro­ duk dengan jelas dan membuat produksi sesuai dengan konsep tersebut. Kedua, menjaga mutu barang sesuai dengan standar dan kebutuhan tiap negara serta memenuhi spesifikasi sesuai dengan permintaan. Ketiga, menciptakan design dan produk yang cocok dengan selera konsumen, me­merhatikan fungsi dan penampilan produk dan me­lakukan pengembangan produk.

Hal-hal tersebut secara khusus mempunyai arti yang penting bagi barang keperluan (consumer goods). Keempat,membuat kemasan sebagai se-orang penjual (salesman) barang/produk. Konsu­men mendapatkan kesan pertama dari kemasan­/bungkus saat melihat produk kita berjajar dengan produk dan perusahaan lain. Kita juga harus berpikir pro­

bahwa kemasan/bungkus bisa bercerita kepada konsumen tentang isi/kandungan dari produk kita. Dan, yang kelima, produk yang berbeda (unik atau lain dari yang lain) merupakan alat pemasaran yang sangat baik/kuat. Keunikan produk akan menjadi sales point tersendiri.

Dapat dijelaskan lebih jauh mengenai ke­gagalan-kegagalan eksportir? Berdasarkan studi kasus yang dilakukan salah satu pusat penelitian menunjukkan bahwa kasus ke­gagalan dan masalah yang biasa dialami oleh eks­portir adalah: pertama, kurangnya penelitian mengenai pasar tujuan ekspor sebelum melaku­kan ekspor. Kedua, banyak kasus yang dilakukan top manajemen dalam mengambil kebijakan­/kebijakan yang tidak tepat sewaktu mengatasi masalah-masalah promosi ekspor. Tanpa tekad dan dukungan yang kuat dari top management, masalah-masalah yang besar, yang berhubungan dengan ekonomi (makro) dan orga­nisasi/perusahaan (mikro), tidak akan bisa disele­saikan. Ketiga, ada banyak kegagalan karena ke­tidakmampuan memilih importir, dealer dan agen, dengan melakukan penelitian yang valid. Keempat, tidak ada program strategi pemasaran. Ada banyak kasus, karena tergesa-gesa menerima pesanan, malah menjadi sia-sia.

Penting untuk melangkah setapak demi setapak dan membatasi pasar dengan tujuan ekspor yang menjanjikan keuntungan. Kelima, kurangnya pe­mahaman yang baik mengenai partner dan pasar. Eksportir harus melakukan promosi penjualan, memberikan insentif, jaminan (garansi), credit system, pendidikan/pelatihan, memikirkan dukung­an yang tepat lainnya bagi pasar dan partner.

Keenam,tidak adanya respon individual (pasar) yang cocok/pas akibat kesalahanggapan bahwa pasar semuanya sama. Ketujuh, pengembangan produk tidak cocok dengan karakteristik masing­masing pasar. Kedelapan, masalah bahasa. Ada banyak kasus, meskipun importir bisa memahami bahasa eksportir, tidak demikian halnya dengan orang-orang yang terkait di dalamnya.

Kesembilan, akan lebih baik bila memakai­/mempekerjakan staf ahli dari perusahaan ekspor, toko/agen yang kompeten, pedagang internasional, dan konsultan. Ke-10, banyak contoh kegagalan dari licensing (pemberian lisensi), perjanjian alih teknologi, dan perusahaan joint venture yang di­karenakan kurangnya penelitian sebelumnya. Dan ke-11, bila ada masalah dalam pelayanan setempat dan pemeliharaan mutu produk, hal itu tergantung tempat tersebut.

See Also :

Invention : Solar Cell untuk Mobil

July 27, 2008

Berhubung lagi rame-ramenya mobil ramah lingkungan, saya punya ide untuk menggunakan solar cell untuk mengurangi penggunaan bahan bakar.

Di kota-besar seperti jakarta, kemacetan ada dimana-mana, sehingga penggunaan AC sangat penting.

Nah AC ini khan komponen kelistrikan, kenapa nggak kita ambil dari solar cell aja, sehingga selain menghemat bahan bakar, juga akan menjadi lebih ramah lingkungan.

Kalau dihitung, misalkan mobil innova kalau nggak pakai AC pemakaian bahan bakarnya bisa 1:10 sementara kalau pakai AC jadi 1:7 . Jika sumber AC diambil dari solar cell, maka pemakaian bahan bakar bisa tetap 1:10 dengan tetap bisa menikmati udara sejuk dari Air conditioner. So, bisa menghemat 1 liter setiap 20 kilometer. Lumayan khan ?

Ada yang tertarik ? Atau mungkin ada yang udah pernah coba ?

See Also :